Batu Akik Pernah Diburu hingga Miliaran Rupiah, Kenapa Sekarang Tak Lagi Jadi Tren?

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:01 WIB
 ilustrasi Batu Akik yang kini sudah mulai jarang di gemari ( Tangkapan layar video YouTube milik kanal Duzzles)
ilustrasi Batu Akik yang kini sudah mulai jarang di gemari ( Tangkapan layar video YouTube milik kanal Duzzles)

RADARTUBAN - Masih ingatkah Anda dengan fenomena luar biasa yang pernah melanda hampir seluruh pelosok negeri ini sekitar sepuluh tahun yang lalu?

Pada masa itu, hampir di setiap sudut jalan, warung kopi, hingga pusat perbelanjaan elit, pemandangan orang berkumpul mengelilingi lapak pedagang batu cincin menjadi hal yang sangat lumrah.

Suara mesin gerinda yang beradu dengan batu terdengar bersahut-sahutan dari pagi hingga malam hari. Ya, itulah era keemasan batu akik, sebuah tren yang sempat membuat masyarakat Indonesia seakan kehilangan akal sehatnya demi sebuah bongkahan batu alam.

Namun, pernahkah terlintas di pikiran kita, mengapa tren yang begitu masif dan fenomenal tersebut bisa meredup dan hilang begitu saja dalam waktu yang sangat singkat?

Dilansir dari unggahan video di kanal YouTube Duzzles yang bertajuk "Kenapa batu akik sudah gak laku?", fenomena ini sebenarnya bisa dijelaskan dengan gamblang melalui kacamata hobi dan konsep ekonomi manipulatif yang sering disebut sebagai monkey business.

Baca Juga: Diyakini Terkait Asal-usul Nama Tuban, Inilah Artefak Batu Yoni di Museum Kambang Putih

Pada awalnya, mengoleksi batu akik hanyalah sebuah hobi yang sangat tersegmentasi. Peminatnya tidak banyak dan biasanya hanya terbatas pada kalangan bapak-bapak atau orang tua saja.

Menariknya, pada masa sebelum meledak, daya tarik batu akik di mata masyarakat awam sering kali bukan terletak pada nilai estetika atau keindahannya secara visual. 

Banyak orang yang mengoleksi batu ini murni karena adanya kepercayaan klenik atau unsur magis. Ada anggapan bahwa batu-batu tertentu memiliki kekuatan sakti, bisa membawa keberuntungan, atau bahkan menjadi penolak bala.

Padahal, jenis-jenis batuan mulia di pasaran sebenarnya sangat beragam, mulai dari batu safir, zamrud, ruby, hingga giok, yang masing-masing memiliki karakter dan pesonanya tersendiri tanpa harus dikaitkan dengan hal gaib.

Titik balik dari nasib batu akik terjadi secara mengejutkan pada tahun 2014. Citra klenik yang selama ini melekat kuat perlahan mulai terkikis dan bergeser menjadi simbol status sosial yang elit.

Dikutip dari penjelasan di kanal YouTube Duzzles, pergeseran tren ini sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh penting di Indonesia, salah satunya adalah mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pada masa itu tersorot kamera mengenakan cincin batu akik di jarinya serta menghadiahkan batu akik kepada Presiden AS Barack Obama.

Ketika para tokoh sekelas kepala negara mulai memamerkan koleksi batu mereka, seketika itu pula persepsi masyarakat berubah drastis. Batu akik tiba-tiba naik kelas menjadi barang mewah yang wajib dimiliki jika seseorang ingin dianggap trendi dan berstatus sosial tinggi.

Sayangnya, umur keemasan ini ternyata sangat pendek. Tren ini hanya mampu bertahan selama kurang lebih satu tahun saja. Memasuki tahun 2015, pasar batu akik sebenarnya sempat menyentuh angka harga tertinggi, di mana sebuah batu berukuran kecil bisa dihargai hingga ratusan juta bahkan miliaran rupiah.

Namun, di balik harga yang fantastis dan tidak masuk akal tersebut, sebuah bom waktu sedang menunggu untuk meledak.

Hukum ekonomi dasar pun mulai berlaku. Karena tergiur keuntungan instan, tiba-tiba semua orang beralih profesi menjadi penjual, pengasah, atau pencari batu.

Hal ini menyebabkan suplai barang di pasaran menjadi sangat berlebih. Di sisi lain, jumlah pembeli riil atau kolektor sejati yang benar-benar mau mengeluarkan uang mulai menurun drastis.

Akibatnya, pasar menjadi sangat jenuh, barang menumpuk di mana-mana, dan harga pun anjlok terjun bebas hingga titik terendahnya.

Lebih lanjut, Duzzles dalam videonya mengibaratkan fenomena runtuhnya tren batu akik ini sebagai bentuk nyata dari monkey business.

Ini adalah sebuah kondisi di mana harga suatu barang digoreng dan dinaikkan secara tidak wajar oleh oknum-oknum tertentu untuk menciptakan kepanikan membeli di masyarakat, sebelum akhirnya ditinggalkan begitu saja saat harga sudah berada di puncak.

Banyak masyarakat yang awalnya tidak paham apa-apa nekat menjual aset berharga seperti motor demi modal membeli batu akik, termakan ilusi bahwa harganya akan terus naik.

Sayangnya, begitu para pemain besar menarik diri dari pasar, masyarakat kecil inilah yang harus menanggung kerugian terbesar. Uang ludes, sementara batu jutaan rupiah mendadak tak ada harganya dan kembali menjadi sekadar batu biasa.

Pola semacam ini bukanlah hal baru. Jika ditarik ke era yang lebih modern, masyarakat juga sempat menyaksikan fenomena serupa pada tahun 2021 lalu, yaitu saat era keemasan NFT (Non-Fungible Token) yang meledak mendadak lalu meredup dengan pola keruntuhan yang nyaris identik.

Pada akhirnya, perputaran tren seperti ini mengajarkan kita tentang bagaimana euforia sesaat bisa membutakan logika. Ketika sebuah hobi sudah disusupi oleh niat untuk mencari kekayaan instan tanpa didasari oleh fundamental yang kuat, keruntuhannya hanyalah tinggal menunggu waktu.

Batu-batu yang dulu disimpan di dalam kotak perhiasan dengan penuh kebanggaan, kini mungkin hanya tergeletak berdebu di sudut laci, menjadi pengingat bisu dari betapa mudahnya manusia terbawa arus ilusi.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Duzzles
batu akik tren cincin