RADARTUBAN- Berita tentang gempa bumi seakan tak pernah absen dari layar kaca kita. Mengapa tanah yang kita pijak ini begitu sering berguncang?
Dilansir dari kanal YouTube West Edukasi dalam video bertajuk "Mengapa Indonesia sering dilanda gempa bumi?", fenomena ini tak lepas dari kondisi anatomi Bumi itu sendiri.
Jika kita membelah Bumi, terdapat beberapa lapisan penyusunnya. Di bawah kerak bumi yang keras tempat kita tinggal, terdapat mantel bumi yang berisi magma sangat panas.
Suhu ekstrem di dalam sana menciptakan arus konveksi raksasa, mirip seperti air mendidih yang bergolak di dalam panci. Arus panas inilah yang terus-menerus mendorong dan menggerakkan kerak bumi di atasnya.
Kerak bumi kita tidaklah utuh seperti cangkang telur rebus, melainkan terpecah-pecah menjadi bagian raksasa yang disebut lempeng tektonik.
Baca Juga: Prabowo Berpeluang Tinjau Lokasi Gempa NTT, Istana: Kita Lihat Perkembangannya
Di dunia, pergerakan lempeng ini membentuk tiga jalur utama gempa: Mid-Atlantic Ridge (Punggung Bukit Tengah Atlantik), Alpide Belt (sabuk gempa Mediterania yang sering disebut jalur laba-laba seismik), dan yang paling ganas, Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire).
Nah, nasib geografis menempatkan Indonesia tepat di atas titik temu tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.
"Negeri kita berdiri tepat di persimpangan tiga lempeng besar Indo-australi, Eurasi, dan Pasifik. Inilah mengapa Indonesia menjadi salah satu negara paling rawan gempa di dunia," dikutip di kanal West Edukasi.
Ada beberapa jenis gempa yang kerap terjadi di Indonesia. Gempa tektonik akibat pergeseran atau tabrakan lempeng adalah yang paling sering mengguncang, disusul oleh gempa vulkanik akibat aktivitas gunung berapi. Namun, proses munculnya gempa ternyata tidak selalu alami.
Beberapa gempa bumi bisa dipicu oleh aktivitas manusia. Contoh kasusnya adalah getaran akibat ledakan uji coba nuklir bawah tanah, aktivitas pertambangan yang terlalu masif, atau pembangunan bendungan raksasa yang memberikan tekanan luar biasa pada struktur batuan di bawahnya.
Secara umum, gempa dikategorikan berdasarkan kedalaman dan kekuatannya. Gempa tektonik dangkal berskala besar yang terjadi di laut lepas sering kali menjadi pemicu bencana sekunder yang mematikan, yakni tsunami.
Kita tentu tak bisa melupakan tragedi Tsunami Aceh pada tahun 2004 silam, atau gempa dahsyat Tohoku di Jepang pada 2011 lalu.
Keduanya dipicu oleh patahan lempeng bawah laut raksasa (megathrust) yang menghempaskan air laut ke daratan dengan kekuatan mengerikan.
Baca Juga: Prabowo Berpeluang Tinjau Lokasi Gempa NTT, Istana: Kita Lihat Perkembangannya
Sebagai negara yang dilalui Cincin Api Pasifik dan berdiri kokoh di atas tiga lempeng besar, gempa bumi adalah keniscayaan bagi wilayah Indonesia. Kita tidak bisa menghentikan pergerakan arus konveksi raksasa di perut bumi.
Namun, dengan edukasi dan pemahaman sejarah dari kasus di Aceh maupun Jepang, kita bisa memperkuat kesiapsiagaan diri dan membangun infrastruktur tahan gempa untuk meminimalisasi dampaknya. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Youtube West Edukasi