Tak Biasa! Kamar Kos 16 Meter Persegi di Bandung Disulap Jadi Kandang Ayam Petelur

Nadia Aulia • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:02 WIB
Agus Hadiyana, peternak urban, bersama ayam-ayam petelurnya di kamar Kos. (Tangkapan layar YouTube DW Indonesia))
Agus Hadiyana, peternak urban, bersama ayam-ayam petelurnya di kamar Kos. (Tangkapan layar YouTube DW Indonesia))

RADARTUBAN – Di balik  pintu kamar kos berukuran 16 m² di Kota Bandung, terdengar riuh suara puluhan ekor ayam. Kamar yang umumnya diisi mahasiswa justru kini beralih fungsi menjadi ruang pemeliharaan bagi 20 ekor ayam petelur.

Keunikan itu merupakan bagian dari eksperimen Agus Hadiyana, dalam mengembangkan peternakan urban berbasis kesejahteraan hewan, bukan sekadar untuk mengejar produksi telur secara masif. 

Ia ingin membuktikan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan dapat berjalan seiring dengan perlakuan yang humanis terhadap hewan ternak.

Alih-alih menggunakan kandang baterai yang sempit. Ia  membiarkan ayam-ayamnya berjalan, bertengger, mengepakkan sayap, hingga melakukan dust bathing atau mandi pasir.

Baca Juga: Kakek Penjual Ayam di Rengel Tuban Jadi Korban Gendam, Uang Rp 1 Juta Melayang

Menurutnya, untuk menghasilkan satu butir telur, seekor ayam membutuhkan proses alamiah hingga 26 jam. Oleh karena itu, kondisi psikologis ayam yang bebas dan bebas dari stres sangat menentukan kualitas telur yang dihasilkan.

“Jangan sampai kita hanya membutuhkan telur atau dagingnya, tapi mereka disekat juga dengan kebebasan yang tidak mereka miliki,” ujar Agus dikutip Youtube DW Indonesia.

Menariknya, Meskipun berada di lingkungan pemukiman padat dan berdekatan dengan kamar anak kos lainnya, tidak membuat lingkungan sekitar dipenuhi bau menyengat.

Ia menggunakan campuran bahan pada alas lantai, seperti gergaji kayu atau gabah, pasir, serta pupuk kandang sapi dan kambing yang telah dikelola. Sistem ini membantu mengendalikan kelembapan dan bau amonia.

Sirkulasi udara juga menjadi perhatian. Sistem ventilasi dan kipas penyedot udara juga dipasang untuk memastikan sirkulasi udara tetap optimal. Agar tidak menganggu  Penghuni kos di sekitarnya. 

Keunikan lainnya terletak pada pengelolaan limbah. Sisa makanan penghuni kos tidak langsung berakhir di tempat sampah.

Limbah organik tersebut dimanfaatkan untuk membudidayakan maggot atau larva Black Soldier Fly. Maggot kemudian dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk pakan ayam.

Sistem ini  menciptakan siklus pemanfaatan limbah yang sekaligus membantu menekan kebutuhan pakan pabrikan. 

"Terjadi sirkulasi limbah yang sebenarnya aman kalau kita bisa memanajemennya dengan baik... Jadi kita tidak lagi membuang limbah-limbah organik ke tempat sampah." jelas Agus.

Ia juga memanfaatkan bahan herbal seperti jahe, kunyit, dan temulawak sebagai bagian dari perawatan keseharian ternaknya.

Dari ruangan yang hanya berukuran 16 meter persegi itu, Ia mampu menghasilkan hingga 20 butir telur dalam sehari.

Sebagian hasil panen dijual, sementara sisanya dimanfaatkan sebagai media edukasi bagi masyarakat belajar  konsep kemandirian pangan dan peternakan berkelanjutan dalam skala rumah tangga.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Youtube DW Indonesia
ayam petelur peternakan bandung kamar kos