Joki Strava Makin Tren, Benarkah Gaya Hidup Sehat Kini Berubah Jadi Ajang Gengsi?

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:01 WIB
Pamer data olahraga di media sosial kini menjadi tren wellness, di mana angka pencapaian kerap dijadikan standar gaya hidup modern. (pinterest.com)
Pamer data olahraga di media sosial kini menjadi tren wellness, di mana angka pencapaian kerap dijadikan standar gaya hidup modern. (pinterest.com)

RADARTUBAN– Fenomena unik kini tengah melanda media sosial dengan kemunculan jasa "joki Strava" bagi masyarakat yang ingin memamerkan catatan waktu lari tanpa harus menguras keringat.

Fenomena ini menjadi gambaran yang jelas bagaimana tren kebugaran dan gaya hidup sehat (wellness) kini beralih dari kebutuhan fisik menjadi ajang pencitraan serta gengsi sosial di era digital.

​Kehadiran jasa joki lari ini dipicu oleh fenomena membanjirnya postingan data olahraga di media sosial, mulai dari platform Strava, pilates, paddle, hingga gym.

Tren wellness yang awalnya digandrungi sebagai respons atas gaya hidup modern yang serba cepat, kini telah berubah menjadi industri raksasa bernilai triliunan dolar.

Namun, di balik semangat hidup sehat tersebut, ada komodifikasi yang berpotensi memicu tekanan psikologis atau productivity guilt, kondisi ketika seseorang merasa bersalah atau kurang jika tidak terlihat produktif dan sehat secara estetis.

Baca Juga: Kenapa Olahraga Kini Jadi Ajang Pamer? Fenomena FOMO dan Joki Strava Mulai Disorot

Gejala ini juga dibahas dalam konten edukasi di media sosial yang menyoroti perubahan esensi olahraga bagi generasi muda sekarang.

Sebagaimana dikutip dari kanal YouTube MALAKA, munculnya tren olahraga berbiaya tinggi hingga joki lari dinilai sebagai dampak dari strategi industri.

"Fenomena joki Strava hingga tren olahraga mahal memperlihatkan bagaimana wellness industry bekerja dengan terus membuat kita merasa kurang dan cemas kalau tidak mengikutinya, sehingga memicu standar produktivitas yang berlebihan," dikutip dari Youtube MALAKA. 

Besarnya nilai wellness economy tercatat mencapai lebih dari 5,6 triliun dolar AS secara global pada 2023, jauh melampaui industri hiburan maupun otomotif.

Hal ini membuktikan bahwa definisi sukses bagi sebagian masyarakat modern kini tidak hanya diukur dari materi, melainkan juga dari seberapa bugar dan gaya hidup sehat apa yang mereka jalani.

Bagi generasi muda, ajakan berkumpul pun beralih dari yang tadinya cuma nongkrong atau clubbing menjadi aktivitas olahraga bersama.

Meskipun kesadaran akan kesehatan fisik dan mental merupakan hal positif, kemasan industri wellness yang terkesan eksklusif dan mahal dapat menciptakan jurang sosial.

Biaya kelas pilates atau keanggotaan gym premium yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan membuat akses hidup sehat seolah hanya milik kalangan tertentu.

Baca Juga: Aplikasi Strava Kena Pajak Digital, Penghobi Olahraga di Tuban Terbelah antara Premium dan Gratisan

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyadari batas kemampuan diri tanpa harus terjebak rasa Fear of Missing Out (FOMO). 

Gaya hidup sehat semestinya bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat melalui pilihan yang ekonomis seperti fasilitas publik, tanpa perlu membebani keuangan demi pencitraan di media sosial.

Nilai diri seseorang jauh lebih bermakna daripada sekadar angka statistik lari atau unggahan di jagat maya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube MALAKA
Joki stava wellness gaya hidup fomo