RADARTUBAN — Tragedi tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 pada April 2021 lalu menjadi salah satu catatan sejarah paling memilukan bagi militer Indonesia.
Kapal selam buatan Jerman yang dijuluki Monster Bawah Laut tersebut dinyatakan tenggelam di perairan utara Bali dan gugur bersama 53 prajurit terbaik TNI Angkatan Laut.
Dilansir dari kanal YouTube Redaksi Konspirasi, KRI Nanggala-402 dibeli pemerintah Indonesia dari produsen kapal di Kiel, Jerman, pada 1977 dan resmi memperkuat alutsista nasional sejak Oktober 1981.
Berbagai misi penting pernah diselesaikan kapal tipe 209/1300 ini, mulai dari pengamanan perbatasan di Timor Timur, pelacakan penyelundupan senjata di Filipina, hingga menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia.
Baca Juga: Kenapa Bagian Bawah Kapal Berwarna Merah? Ini Penjelasan Ilmiah dan Fungsinya
Petaka terjadi pada 21 April 2021 saat KRI Nanggala-402 menggelar latihan penembakan torpedo strategis di Laut Bali di bawah pimpinan Letkol Laut (P) Heri Octavian.
Sekitar pukul 03.00 WITA, kapal meminta izin untuk mulai menyelam di kedalaman 13 meter. Namun hanya dalam waktu singkat, kapal selam tersebut hilang kontak sebelum sempat meluncurkan torpedo yang dijadwalkan.
Prosedur pencarian darurat (submiss) langsung dikerahkan. Tim pencari menemukan indikasi awal berupa tumpahan minyak dan bau solar di sekitar lokasi hilang kontak.
Operasi penyelamatan besar-besaran pun digelar dengan melibatkan bantuan teknologi dari berbagai negara sahabat seperti Malaysia, Australia, hingga Jerman.
Pencarian tersebut menjadi lomba berpacu dengan waktu mengingat cadangan oksigen di dalam kapal diperkirakan hanya bertahan selama 72 jam.
Kepastian pahit akhirnya tiba pada 24 April 2021 saat tim SAR memotret puing-puing komponen kapal di dasar laut. Sehari kemudian, pencitraan bawah laut memastikan badan KRI Nanggala-402 telah terbelah menjadi tiga bagian di kedalaman ekstrem 838 meter. Seluruh 53 awak kapal dinyatakan gugur dalam tugas (subsunk).
Hasil investigasi menunjukkan bahwa beberapa faktor teknis diduga menjadi pemicu utama bencana, mulai dari kerusakan hydroplane, gangguan sistem air tangki pemberat (ballast), hingga kehancuran lambung tekan (pressure hull) akibat tekanan air ekstrem di kedalaman melebihi batas batas aman kapal.
Tragedi KRI Nanggala-402 menjadi insiden kecelakaan kapal selam pertama dalam sejarah pertahanan Indonesia. Pengorbanan 53 prajurit yang On Eternal Patrol (berpatroli selamanya) tersebut menjadi evaluasi mendalam bagi perawatan dan modernisasi alutsista pertahanan negara di masa mendatang. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube Redaksi Konspirasi