108 Sekolah di Sarawak Ditutup akibat Kabut Asap Karhutla Kalimantan, Ini Penyebabnya

Hardiyati Budi Anggraeni • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:03 WIB
Kabut asap karhutla Kalimantan berdampak ke Sarawak, Malaysia. (ANTARA)
Kabut asap karhutla Kalimantan berdampak ke Sarawak, Malaysia. (ANTARA)

RADARTUBAN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai berdampak hingga wilayah Malaysia.

Sebanyak 108 sekolah di kawasan Serian, Sarawak, ditutup sementara setelah kualitas udara memburuk dan indeks pencemaran udara (API) menembus level yang ditetapkan pemerintah.

Penutupan sekolah dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap risiko kesehatan siswa dan tenaga pendidik akibat paparan udara tercemar.

Dilansir Bernama, Kamis (20/8), Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN) menyebut kegiatan belajar mengajar tidak dihentikan sepenuhnya. Setelah sekolah ditutup, pembelajaran akan dialihkan melalui Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR).

Baca Juga: Kronologi Kebakaran Nipah Mall Makassar, Api Muncul Jelang Pusat Perbelanjaan Tutup

Kebijakan tersebut diambil agar siswa tetap dapat mengikuti kegiatan pendidikan selama kondisi udara belum membaik.

Sekolah Ditutup Jika API Capai 200

JPBN Sarawak menjelaskan, keputusan penutupan sekolah mengacu pada Rencana Aksi Kabut Nasional.

Berdasarkan ketentuan tersebut, sekolah, taman kanak-kanak, hingga tempat penitipan anak dapat ditutup ketika indeks API mencapai angka 200.

“Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200,” demikian pernyataan JPBN Sarawak.

API digunakan untuk menggambarkan tingkat pencemaran udara. Semakin tinggi angkanya, semakin besar pula risiko terhadap kesehatan masyarakat.

Dua Wilayah Sarawak Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Kondisi udara di sejumlah wilayah Sarawak menunjukkan peningkatan polusi dalam beberapa pekan terakhir.

JPBN Sarawak mencatat kualitas udara mulai menunjukkan tren memburuk sejak 1 Agustus 2026.

Hingga Kamis pukul 16.00 waktu setempat, terdapat dua wilayah yang mencatat API dalam kategori sangat tidak sehat.

Tebedu berada pada angka 212, sedangkan Serian mencapai 202.

Selain itu, 11 wilayah lainnya masuk kategori tidak sehat. Wilayah tersebut meliputi Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas.

Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas di luar rumah.

Kenali Kategori Indeks Pencemaran Udara

Berdasarkan klasifikasi API yang digunakan di Malaysia, kualitas udara terbagi dalam beberapa kategori.

Dengan angka API 202 di Serian dan 212 di Tebedu, kedua wilayah tersebut sudah masuk kategori sangat tidak sehat.

Kelompok Rentan Diminta Kurangi Aktivitas di Luar

JPBN Sarawak mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih buruk.

Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan maupun penyakit jantung.

Mereka diminta membatasi paparan terhadap udara tercemar untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Kabut asap yang mencapai Sarawak menjadi salah satu dampak lintas batas dari karhutla yang terjadi di wilayah Kalimantan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dirasakan masyarakat di wilayah sekitar titik kebakaran, tetapi juga dapat terbawa angin hingga negara tetangga.

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
karhutla kebakaran kalimantan asap Malaysia