RADARTUBAN– Gejala sosial di mana kelompok masyarakat bersedia melakukan antrean mengular hingga memanfaatkan fasilitas pinjaman online (pinjol) demi memiliki gadget kelas atas seperti iPhone dan MacBook terus menjadi sorotan.
Meskipun rata-rata gaji bersih generasi muda di Indonesia usia 20–24 tahun berada di kisaran Rp 2,4 juta per bulan menurut data BPS, produk elektronik seharga puluhan juta rupiah tersebut tetap berulang kali laku keras (sold out) di pasaran.
Kecenderungan perilaku konsumtif dalam kepemilikan perangkat mewah ini makin kompleks lantaran akses terhadap dana pinjaman digital jauh lebih praktis.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2024, terdapat 11,3 juta rekening pinjol aktif dari kelompok usia 19–34 tahun. Angka tersebut mencakup 59,5 persen dari total rekening pinjaman perorangan di Indonesia dengan nilai pinjaman mencapai Rp 32,6 triliun.
Rata-rata pinjaman kelompok usia muda ini menyentuh Rp 2,9 juta per rekening, yang secara nominal bahkan melampaui rata-rata gaji bersih bulanan mereka.
Dalam analisis finansialnya, narator dari kanal edukasi Satu Persen membedah bahwa perilaku pendorong pembelian gadget mahal ini terbagi ke dalam beberapa tingkatan (level), mulai dari faktor gengsi tanpa perhitungan hingga pemanfaatan produktif untuk investasi pekerjaan.
"Level yang paling berbahaya adalah ketika seseorang membeli iPhone karena gengsi menggunakan pinjol atau cicilan tidak terencana, tanpa ada use case produktif sama sekali. Cicilannya bisa memakan 30 sampai 40 persen dari take home pay, sehingga setiap keputusan finansial berikutnya sudah dikompromikan sebelum sempat berpikir," ungkap Danang, pembawa acara dari kanal YouTube Satu Persen.
Ia menambahkan, dorongan emosional dalam keputusan finansial kerap kali dikemas sedemikian rupa oleh Pembenaran logis yang diproduksi oleh alam pikiran sadar.
Dalam teori psikologi sosial, seseorang kerap membeli produk mewah bukan sekadar untuk fungsi teknis, melainkan demi mengikatkan diri pada identitas sosial atau kelompok tertentu yang ingin diaspirasikan.
Kondisi tersebut mempertegas pentingnya peningkatan literasi finansial di kalangan generasi muda.
Tanpa pemahaman perencanaan anggaran yang matang, ketergantungan pada fasilitas pinjaman digital untuk gaya hidup konsumtif sangat rawan membekukan perputaran uang masuk dan keluar dan menjebak masyarakat dalam lingkaran utang berkepanjangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Youtube Satu Persen