Kenapa Royal Jelly Harganya Selangit? Ternyata 1 Kg Harus Dipanen dari 2.000 Sel Lebah

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 07:15 WIB
Royal jelly yang dibandrol dengan harga sangat mahal. (Pinterest.com)
Royal jelly yang dibandrol dengan harga sangat mahal. (Pinterest.com)

RADARTUBAN - Royal jelly dikenal sebagai salah satu produk perternakan lebah yang paling eksklusif dan bernilai tinggi di dunia.

Cairan berwarna putih susu menyerupai krim tebal ini diproduksi oleh kelenjar lebah pekerja dan ditujukan khusus sebagai makanan utama ratu lebah. Karena kandungan nutrisinya yang sangat tinggi, royal jelly kerap dijuluki sebagai superfood dari sarang lebah.

Harganya di pasaran bahkan bisa mencapai 20 kali lipat lebih mahal dibandingkan madu biasa.

​Proses pemanenan yang rumit, membutuhkan ketelitian tinggi, serta terbatasnya jumlah produksi menjadi alasan utama di balik melambungnya harga cairan ajaib ini.

Baca Juga: Binaan Rumah BUMN BRI, Suhita Lebah Indonesia Sukses Bangun Usaha Madu Berkelanjutan Berbasis Komunitas Hutan Lampung

Proses Panen yang Rumit dan Berisiko Tinggi

Pemanenan royal jelly tidak dapat dilakukan dengan mesin, melainkan harus dikerjakan secara manual menggunakan tangan.

Peternak lebah memicu produksi royal jelly dengan cara memindahkan larva lebah yang baru menetas, biasanya berusia kurang dari 12 jam ke dalam cetakan sel ratu buatan.

​"Proses pemindahan larva ini sangat krusial. Jika larva yang dipindahkan berusia lebih dari 24 jam atau penanganannya kasar hingga larva rusak, lebah pekerja tidak akan menerimanya dan proses produksi akan gagal," dikutip dari kanal YouTube Business Insider.

Dalam kurun waktu tepat 72 jam setelah pemindahan larva, peternak harus segera memanen royal jelly sebelum sel tersebut ditutup dan nutrisinya dihabiskan oleh larva.

Untuk mengumpulkan hanya 1 kilogram royal jelly, peternak harus mengosongkan dan membersihkan secara manual sedikitnya 2.000 sel ratu lebah.

Kaya Nutrisi dan Mitos Khasiat Kesehatan

​Perbedaan harga yang signifikan antara madu dan royal jelly bermula dari komposisi nutrisinya. Jika madu sebagian besar terdiri dari gula alami, royal jelly kaya akan protein, asam amino, serta berbagai mineral penting yang langka.

Ratu lebah yang mengonsumsi royal jelly secara eksklusif dapat tumbuh hingga 1,5 kali lebih besar dari lebah pekerja biasa dan memiliki masa hidup hingga 50 kali lebih lama.

Efek luar biasa pada ratu lebah inilah yang memicu kepercayaan masyarakat bahwa royal jelly dapat memperpanjang umur, meningkatkan stamina, dan menjaga kesehatan tubuh manusia.

Meskipun banyak klaim kesehatan belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah melalui uji klinis berskala besar, popularitas royal jelly tetap sangat tinggi, terutama di kawasan Asia seperti Tiongkok, yang menguasai mayoritas produksi royal jelly dunia.

Baca Juga: Cara Membedakan Madu Asli dan Oplosan Secara Ilmiah Melalui Pengujian Laboratorium, Begini Menurut Para Ahli

Perubahan Iklim dan Tantangan Industri

​Di balik tingginya permintaan pasar, para peternak lebah kini menghadapi tantangan yang kian berat.

Perubahan iklim yang ekstrem, cuaca yang tidak menentu, serta penggunaan pestisida secara masif pada lahan pertanian menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup populasi lebah.

Selain itu, upaya memproduksi royal jelly buatan di laboratorium hingga kini belum membuahkan hasil yang setara.

Produk sintetis tersebut gagal menirukan manfaat alami royal jelly dan bahkan berisiko fatal bagi larva lebah.

Oleh karena itu, pasokan royal jelly murni dipastikan akan tetap terbatas dan menjadikan harganya tetap melambung tinggi di pasar global. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Business Insider
royal jelly madu mahal