RADARTUBAN – Di tengah tren remaja seusianya yang banyak menghabiskan waktu di media sosial untuk sekedar mencari kesenangan, Zila (15) memilih jalur yang berbeda.
Siswi SMP ini tidak hanya menggunakan media sosial untuk berekspresi, tetapi juga menjadikannya sebagai ruang untuk menyampaikan kritik terhadap persoalan sosial dan politik.
Apa yang membuat seorang remaja berusia 15 tahun berani meninggalkan ruang digital dan menyuarakan kritik langsung di jalanan?
Aktivisme Zila bermula dari kegelisahannya melihat ketimpangan antara kondisi negara dengan harapan yang ada dalam pikirannya.
Aksi protes pada Agustus 2025 menjadi salah satu titik balik yang mendorongnya semakin aktif menyuarakan pendapat di media sosial.
Baca Juga: Ketua DPD Ingatkan Pemerintah : Penyesuaian TKD Jangan Bikin Layanan Dasar Daerah Terkapar!
Ia membicarakan berbagai persoalan, mulai dari isu korupsi hingga program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Bagi Zila, kritik bukan sekadar aktivitas di media sosial. Keberaniannya juga tumbuh dari lingkungan keluarga yang terbuka terhadap diskusi.
Orang tuanya memberikan ruang bagi Zila untuk menyampaikan pendapat sekaligus membimbingnya memahami risiko ketika terlibat dalam aktivitas sosial dan politik.
“Keluarga kita sadar sih Zila punya kapasitas yang lebih besar. Zila sedang mulai mencari panggung ekspresinya, jadi kita selalu tektokan, saling ngobrol dua arah aja,” ungkap paman Zila dikutip dari Youtube DW Indonesia.
Meski mendapat dukungan , keluarga Zila menyadari bahwa ruang aktivisme di Indonesia masih memiliki berbagai batasan.
“Cuman tetap balik lagi, kita sadar bahwa kapasitas aktivis di negara kita memang belum bisa semerdeka itu,” lanjutnya.
Keberanian seorang Zila lalu berlanjut dari media sosial ke ruang publik.
Pada Januari 2026, ia bergabung dalam Aksi Kamisan dan menyampaikan orasi di hadapan para aktivis senior dengan membawa boneka lucu . Kehadirannya sebagai satu - satunya remaja 15 tahun menjadi pengalaman baru bagi dirinya.
“Jujur aku waktu pertama kali tuh malu sih, karena di situ tuh benar-benar aku anak kecil sendirian. Tapi semua orang tuh nyapa aku kayak, ‘Zila kamu keren banget’,” kenangnya.
Penulis buku 'Kamisan Orang Silih Berganti' , Dian Purnomo, menilai kehadiran anak muda dalam gerakan sosial merupakan hal penting bagi keberlanjutan isu hak asasi manusia dan keadilan.
“Datangnya anak muda itu satu berita gembira. Kita mengenalkan isu-isu ini ke anak muda supaya enggak dibohongin lagi setiap 5 tahun sekali,” ujar Dian.
Namun, keberanian bersuara juga pasti membawa risiko. Media sosial yang dianggap efektif sebagai ruang advokasi oleh 87 persen Gen Z tetap memiliki tantangan berupa komentar negatif, intimidasi, hingga ancaman terhadap kebebasan berekspresi.
Menanggapi hal itu , Zila memilih puisi dan sastra sebagai medium lain untuk menyampaikan kritik . Ia bergabung dalam komunitas puisi Nokturno .
“Puisi atau sastra itu biasanya menjadi pembuka... menjadi medium untuk hati Zila berbicara dan menyentuh perasaan lebih banyak orang,” kata Dian.
Dari media sosial hingga Aksi Kamisan, keberanian Zila memperlihatkan bahwa suara anak muda memiliki tempat di ruang publik.
Kisahnya juga membuktikan bahwa usia bukanlah alasan untuk berhenti bertanya, berpikir kritis, dan menyuarakan keresahan.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni