RADARTUBAN - Saat ini, ketika tekanan biaya hidup kian tinggi, lapangan pekerjaan makin sulit, dan masa depan terasa serba tidak pasti, sosok Tan Malaka kembali banyak diperbincangkan.
Nama tokoh revolusioner bangsa ini tidak hanya diperbincangkan di meja-meja kedai kopi urban, tetapi juga viral di berbagai lini masa media sosial sebagai respons atas keresahan sosial-ekonomi yang dihadapi generasi muda.
Fenomena kebangkitan pemikiran pemuda asal Sumatra Barat tersebut dibahas secara tajam oleh kanal YouTube @dasskapital.
Baca Juga: Menjadi Pahlawan di Era Digital: Apa Artinya Jadi Pahlawan di Era yang Semua Orang Sibuk Jadi Viral?
Dalam ulasannya, kembalinya figur Tan Malaka dinilai bukan sekadar tren sejarah atau nostalgia semata, melainkan respons atas persoalan material konkret yang membelit anak muda modern yang bahkan lahir jauh setelah Indonesia merdeka.
Di tengah belum memadainya jawaban dari institusi formal atas isu ketimpangan ekonomi dan mahalnya biaya hidup, generasi muda berpaling mencari dasar pemikiran kritis melalui internet.
Melalui ruang digital inilah gagasan-gagasan besar sang pahlawan nasional kembali ditemukan dan dipelajari ulang tanpa mampu dibendung oleh benteng rezim mana pun.
Relevansi Madilog dan Perlawanan Terhadap Cara Berpikir Malas
Salah satu karya legendaris yang kembali diminati adalah Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika).
Melalui gagasan ini, anak muda diajak untuk membedah realitas sosial secara rasional dan berbasis hubungan sebab-akibat, bukannya menyerah pasrah pada keadaan atau menganggap penderitaan ekonomi sebagai takdir belaka.
"Logika mistika adalah cara berpikir yang malas, yang lebih suka menyerahkan nasib pada kekuatan gaib, tahayul, mitos, atau dogma turun-temurun ketimbang membongkar realitas menggunakan metode empiris dan analisis sebab akibat," tegas pemapar dalam analisis video tersebut.
Dalam konteks kekinian, pola pikir mistika tersebut mewujud dalam bentuk baru yang menjebak anak muda.
Seperti maraknya pseudosains, tawaran kekayaan instan, hingga retorika politik dangkal yang menawarkan solusi instan atas masalah sistemik yang kompleks.
Kondisi ini membuat ajaran Tan Malaka tentang nalar kritis menjadi Oase intelektual yang makin relevan dan relevan bagi publik muda.
Tantangan Komodifikasi Intelektual dan Aksesori Tren
Kendati demikian, tingginya minat generasi muda terhadap pemikiran Tan Malaka tidak lepas dari ancaman dangkalnya pemahaman.
Terdapat kekhawatiran bahwa ide-ide radikal sang revolusioner justru terdistorsi dan tereduksi menjadi sekadar kutipan keren di media sosial demi estetika digital semata.
"Kutipan-kutipan Tan Malaka mengalami dislokasi makna yang parah. Ia tidak lagi dibaca sebagai blueprint perlawanan struktural, melainkan dikemas ulang menjadi aksesori intelektual," ujar pemapar video mengingatkan.
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari