Hutan Kalimantan Terus Menyusut, Apa yang Terjadi Jika Sebagian Besarnya Benar-Benar Hilang?

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 09:44 WIB
Potret hutan Kalimantan paru-paru dunia yang kini sedang terancam. ( Tangkapan layar video YouTube kanal Geo Curious 20)
Potret hutan Kalimantan paru-paru dunia yang kini sedang terancam. ( Tangkapan layar video YouTube kanal Geo Curious 20)

RADARTUBAN- Hutan Kalimantan akhir-akhir ini kembali menyita perhatian publik setelah peristiwa kebakaran hutan melanda sejumlah wilayah.

Fenomena ini memicu pertanyaan krusial mengenai nasib bumi Kalimantan jika tutupan hijaunya benar-benar menyusut secara drastis di masa depan.

Dikutip dari tayangan video di kanal YouTube Geo Curious 20 yang berjudul "Apa yang terjadi jika hutan Kalimantan habis?" bahwa Pulau Kalimantan atau Borneo merupakan pulau terbesar ketiga di dunia setelah Greenland dan Papua. Sekitar 73 persen wilayah Borneo ini berada di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga: 25 Tahun Merawat Lahan Kritis, Rosita Sulap Tanah Tandus Megamendung Jadi Hutan 30 Hektare

Namun, daya pikat Kalimantan tidak hanya terletak pada ukurannya yang membentang luas. Hutan hujan tropis di pulau ini sangat istimewa karena tercatat sebagai salah satu yang tertua di dunia, dengan perkiraan usia mencapai 130 juta tahun. 

Hutan ini telah melampaui berbagai perubahan iklim ekstrem sepanjang sejarah geologi bumi, mulai dari zaman es hingga lonjakan permukaan air laut.

Keberadaan hutan Kalimantan memegang peranan yang sangat penting bagi keseimbangan lingkungan global.

Hutan ini berfungsi sebagai rumah bagi ribuan keanekaragaman hayati, penyimpan cadangan karbon raksasa, sekaligus pengatur tata air alami.

Sayangnya, keberadaan paru-paru dunia ini terus dibayangi berbagai ancaman serius. Salah satunya adalah deforestasi dan pembukaan lahan perkebunan skala besar seperti kelapa sawit.

Kendati kebun sawit terlihat hijau dari kejauhan, ekosistemnya jauh berbeda dari hutan alami. Satwa langka seperti orangutan sangat sulit beradaptasi di ekosistem perkebunan ini.

Selain itu, industri pembalakan kayu, pertambangan batu bara, serta penggalian mineral kaya nilai ekonomi turut mengikis tutupan hutan.

Namun, ancaman yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah kebakaran hutan dan lahan.

Dilansir dari kanal YouTube Geo Curious, pada tanggal 14 Agustus lalu tercatat sekitar 1.487 titik panas tersebar di wilayah Kalimantan.

Di kota Palangkaraya saja, terdeteksi 1.795 titik panas yang mengakibatkan jarak pandang atau kualitas udara merosot tajam hingga tersisa 1,4 kilometer di beberapa wilayah.

Penyebab utama maraknya kebakaran ini adalah kombinasi tanah serta cuaca yang sangat kering, dipicu oleh praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang dianggap sebagian pihak lebih cepat dan praktis.

Padahal, jika api menjangkau lahan gambut, dampaknya bisa sangat fatal bahkan menimbulkan krisis asap lintas negara. Di negara tetangga seperti Malaysia, sejumlah sekolah bahkan terpaksa diliburkan akibat dampaknya.

Baca Juga: Gandeng Plataran, BRI Gelar Immersive Wellness Garden Experience Pertama dan Terbesar di Hutan Kota Jakarta

Jika perusakan hutan ini terus dibiarkan tanpa penanganan memadai, akan tercipta efek domino yang mengerikan. Dunia akan menghadapi ancaman kepunahan spesies dan kehilangan habitat alami satwa endemik. 

Selain itu, risiko erosi tanah serta banjir bandang akan meningkat tajam. Hilangnya tutupan hutan juga berpotensi memicu kekeringan parah karena kemampuan alam menyimpan cadangan air berkurang secara drastis.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
kaliamntan hutan kebakaran