Mengenang Tragedi Mei 1998, Titik Kelam Sejarah dan Lahirnya Reformasi

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Gambar kekacauan yang terjadi akibat kerusuhan pada tragedi Mei 1998. (Pinterest)
Gambar kekacauan yang terjadi akibat kerusuhan pada tragedi Mei 1998. (Pinterest)

RADARTUBAN - Peristiwa kelam Tragedi Mei 1998 menjadi salah satu titik balik paling bersejarah bagi bangsa Indonesia setelah merenggut lebih dari 1.000 nyawa dan melumpuhkan ibu kota.

Gelombang kerusuhan hebat serta aksi penembakan tragis dalam Tragedi Mei 1998 tersebut akhirnya memaksa Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa, sekaligus menandai lahirnya Era Reformasi.

Desakan reformasi total yang dipicu oleh akumulasi kekecewaan rakyat dalam Tragedi Mei 1998 mencapai puncaknya setelah runtuhnya legitimasi pemerintah.

Aksi pendudukan Gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa dari berbagai wilayah menjadi penanda penting berhentinya Soeharto secara resmi dari jabatannya pada 21 Mei 1998.

Kendati berhasil melahirkan era demokrasi baru, penegakan reformasi melalui Tragedi Mei 1998 harus dibayar mahal dengan penderitaan mendalam dan hilangnya ribuan nyawa warga sipil.

Eskalasi konflik meluas hanya dalam hitungan hari, memicu kepanikan luar biasa di berbagai kota besar, khususnya Jakarta.

Kronologi Penembakan Trisakti dan Puncak Tragedi Mei 1998

Awal dari rentetan Tragedi Mei 1998 bermula pada 12 Mei 1998, ketika ribuan mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi damai untuk menyuarakan tuntutan perubahan.

Setelah melakukan negosiasi dengan pihak keamanan, para mahasiswa memutuskan kembali ke dalam area kampus dengan tertib pada sore hari.

Kondisi kondusif seketika berubah menjadi mencekam saat rentetan tembakan peluru tajam dilepaskan dari luar area kampus.

Kejadian secara tiba-tiba yang menjadi pemicu utama Tragedi Mei 1998 tersebut menewaskan empat mahasiswa Trisakti, yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie, yang ambruk bersimbah darah di lokasi kejadian.

Gugurnya empat mahasiswa tersebut di tengah aksi damai membakar amarah publik secara meluas hingga pecahlah puncak Tragedi Mei 1998 di seluruh pelosok negeri pada hari berikutnya.

Kerusuhan Massal dan Dampak Kemanusiaan Tragedi Mei 1998

Kematian empat mahasiswa memicu amarah publik yang tak terkendali pada 13 Mei 1998.

Ibu kota berubah menjadi lautan api dalam eskalasi Tragedi Mei 1998, di mana amuk massa melakukan penjarahan toko, pembakaran kendaraan, hingga pengrusakan pusat kerajinan dan gedung perkantoran.

Salah satu insiden paling memilukan dalam rangkaian Tragedi Mei 1998 terjadi di Mall Klender, Jakarta Timur.

Ratusan warga terjebak di dalam bangunan yang terbakar hebat hingga tewas mengenaskan, menjadikan pusat perbelanjaan tersebut sebagai lokasi kuburan massal di tengah kekacauan kota.

Kerusuhan dalam Tragedi Mei 1998 juga diwarnai aksi kekerasan sistemis dan diskriminasi masif yang ditujukan kepada warga keturunan Tionghoa.

Pemukiman dan tempat usaha mereka diserang secara mendadak, menyebabkan banyak keluarga kehilangan tempat tinggal serta barang berharga hingga memilih mengungsi ke luar negeri.

Tidak hanya kerugian material, kejahatan kemanusiaan yang sangat berat turut menimpa kelompok perempuan Tionghoa selama Tragedi Mei 1998.

Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya 168 kasus kekerasan seksual dilaporkan terjadi dalam kerusuhan tersebut, meninggalkan trauma mendalam yang sulit terhapuskan.

Akar Masalah dan Pemicu Krisis Sebelum Tragedi Mei 1998

Rentetan kerusuhan hebat dalam Tragedi Mei 1998 tidak terjadi secara mendadak, melainkan akumulasi dari ketegangan sosial dan krisis ekonomi yang menumpuk sejak pertengahan tahun 1997.

Badai Krisis Moneter Asia menghantam perekonomian nasional secara parah hingga menyulut ketidakstabilan sosial.

Nilai tukar rupiah merosot tajam hingga menembus angka Rp16.000 per dolar AS.

Dampak langsung sebelum pecahnya Tragedi Mei 1998 terasa pada melonjaknya harga bahan-bahan pokok, timbulnya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di berbagai sektor industri, serta meroketnya angka kemiskinan di Indonesia.

Kondisi sosial-ekonomi yang memburuk kian diperparah oleh maraknya praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di lingkaran pemerintahan.

Sistem kekuasaan yang represif dan otoriter selama dekade Orde Baru turut mempersempit ruang demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Selain krisis ekonomi, diskriminasi sosial terhadap etnis Tionghoa yang terbiarkan selama puluhan tahun berubah menjadi bom waktu.

Ketika Soeharto kembali dilantik pada Maret 1998, ketidakpuasan publik meledak dalam bentuk gerakan mahasiswa besar-besaran yang pada akhirnya meletus sebagai Tragedi Mei 1998. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
soeharto reformasi tragedi mei 1998