Gempa Besar Guncang NTT, Kenapa Gempa Susulan Bisa Terjadi Ribuan Kali?

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:32 WIB
Sebuah rumah rusak akibat gempa bumi yang melanda NTT pada 15 Agustus 2026 lalu (X.com/Extra Time Indonesian)
Sebuah rumah rusak akibat gempa bumi yang melanda NTT pada 15 Agustus 2026 lalu (X.com/Extra Time Indonesian)

RADARTUBAN-Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali berduka setelah diguncang bencana dahsyat pada 15 Agustus 2026. Peristiwa tragis ini menggugah keprihatinan publik.

Sebagaimana dilansir dari video kanal YouTube Malaka Project id. Wilayah NTT diguncang gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu.

Kekuatan gempa ini tergolong sangat besar, bahkan melampaui bencana gempa Padang tahun 2009 silam yang saat itu mencatatkan Magnitudo 7,6 dan merusakkan 270.000 rumah warga.

Dampak yang ditimbulkan di NTT sangat memilukan. Hal yang membuat masyarakat heran sekaligus cemas adalah rentetan guncangan yang tak kunjung usai setelah gempa utama pada 15 Agustus 2026 tersebut.

Baca Juga: Batal Tinjau Gempa NTT Sabtu Lalu, Ke Mana Presiden Prabowo? Ini Penjelasannya

Hingga kini, tercatat ada lebih dari 6.400 kali gempa susulan. Guncangan susulan terbesar berada pada Magnitudo 6,2, sementara yang terkecil berkekuatan Magnitudo 1,1.

Fenomena ini sejatinya merupakan proses alami bumi. Bumi tempat kita berdiri terdiri dari beberapa lapisan tanah dan batuan. Ketika terjadi patahan atau pergeseran secara tiba-tiba di dalam lapisan bumi, energi raksasa akan terlepas dan memicu gempa utama.

Setelah guncangan hebat tersebut, lempeng batuan yang retak memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri hingga posisinya benar-benar stabil kembali. Proses pelepasan sisa energi inilah yang kita rasakan sebagai gempa susulan.

Sejak gempa utama terjadi pada 15 Agustus 2026, BMKG merekam 704 kali gempa susulan di hari pertama dan melonjak menjadi 746 kali pada hari kedua.

Meski sempat menurun, angkanya kembali naik pada hari keenam mencapai 802 kali, dengan guncangan yang cukup kuat berkisar di skala Magnitudo 5,6 hingga 5,8.

BMKG juga menyebutkan bahwa Indonesia merupakan daerah yang sangat aktif secara tektonik. Dalam setahun, terjadi sekitar 30 ribu gempa bumi di tanah air, atau rata-rata 80 gempa setiap harinya.

Sebagian besar tidak kita rasakan karena magnitudonya kecil atau pusatnya berada jauh di dalam laut.

Kondisi ini terjadi karena Indonesia berdiri tepat di antara lempeng-lempeng tektonik besar dan dikelilingi oleh Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Khusus untuk bencana kali ini, guncangan dipicu oleh aktivitas tektonik Flores Back Arc Thrust atau sesar naik belakang busur Flores. Struktur ini punya potensi bahaya besar dengan Magnitudo maksimum mencapai 7,8 hingga 7,9.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa kawasan ini memang memiliki riwayat gempa yang panjang. Gempa besar pernah melanda wilayah Alor pada abad ke-19 yang menewaskan 250 orang.

Baca Juga: Gempa NTT Tembus 71 Orang, Indonesia Belum Buka Bantuan dari Negara Asing

Selain itu, BMKG mencatat riwayat bencana lain seperti gempa dan tsunami 1977, tragedi Flores 1992 yang menelan lebih dari 2.000 korban jiwa, gempa Alor 2004, hingga gempa Laut Flores 2001.

Melihat kondisi saudara-saudara kita di NTT yang terdampak sejak bencana 15 Agustus 2026 lalu, mari kita tingkatkan kesiapsiagaan diri sekaligus merapatkan barisan.

Cania Citta juga menegaskan kepada para audiens (masyarakat) untuk memberi bantuan berupa uang, pakaian, maupun bahan pangan sangat berarti untuk meringankan beban mereka yang kehilangan tempat tinggal dan bertahan di pengungsian.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Gempa Bumi BMKG ntt