Bukan Impor! Merek Buah Sunpride Ternyata Buatan Asli Lampung

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 09:17 WIB
Pisang Cavendish Sunpride, salah satu hasil produksi perkebunan Nusantara Tropical Farm. (Pinterest)
Pisang Cavendish Sunpride, salah satu hasil produksi perkebunan Nusantara Tropical Farm. (Pinterest)

RADARTUBAN - Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin masih mengira bahwa merek buah populer Sunpride merupakan produk impor dari luar negeri. 

Padahal, buah-buahan berlabel Sunpride diproduksi secara mandiri di dalam negeri, dengan perkebunan utama yang membentang luas di Kabupaten Lampung Timur, Lampung.

Di Balik Imperium Bisnis Keluarga Angko Subroto

​Di balik kesuksesan Sunpride, terdapat imperium bisnis keluarga Angko Subroto melalui grup usaha Gunung Sewu. Saat ini, kepemimpinan bisnis diteruskan oleh Husodo Angko Subroto sebagai generasi kedua.

Eksistensi grup bisnis ini di sektor agribisnis buah sejatinya telah dirintis jauh sebelum merek Sunpride dikenal luas.

Baca Juga: Bisnis Nanas Jumbo Tanpa Duri di Galon Bekas, Jamaluddin Panen Nanas Jumbo 7 Kg Beromzet Menggiurkan

Langkah awal ekspansi agribisnis Gunung Sewu dimulai pada tahun 1979 saat mereka masuk ke industri pengolahan nanas melalui Great Giant Pineapple (GGP) di Lampung.

Selanjutnya, pada tahun 1992, Gunung Sewu mendirikan PT Nusantara Tropical Farm (NTF) berkolaborasi dengan perusahaan buah asal Filipina, Del Monte Produce. Kepemilikan NTF kemudian sepenuhnya diambil alih oleh Gunung Sewu pada kisaran tahun 1996.

Pisang Cavendish Jadi Tulang Punggung Penjualan Sunpride

Seiring berjalannya waktu, perkebunan yang dikelola NTF berkembang kian masif. Hingga tahun 2015, NTF tercatat mengelola lahan perkebunan seluas kurang lebih 3.757 hektar di Lampung Timur.

Sekitar 1.754 hektar di antaranya dialokasikan khusus untuk budidaya pisang Cavendish. Komoditas pisang Cavendish inilah yang menjadi tulang punggung penjualan utama merek Sunpride, bahkan menyumbang lebih dari 67 persen total penjualan PT Sewu Segar Nusantara (SSN) pada tahun 2015.

Strategi Commodity to Brand dan Ekspansi Lahan

PT Sewu Segar Nusantara sendiri didirikan pada tahun 1995 dengan tugas utama mendistribusikan buah dari hasil kebun ke pasar konsumen. Melalui entitas inilah merek Sunpride resmi diperkenalkan.

Gunung Sewu menerapkan strategi bisnis yang tergolong berani pada masa itu, yaitu commodity to brand.

Buah-buahan segar seperti pisang tidak lagi dipasarkan sekadar sebagai barang komoditas mentah, melainkan dikemas secara profesional dengan standar kualitas ketat serta positioning merek yang kuat.

Strategi inilah yang membuat Sunpride memiliki citra kelas atas layaknya buah impor.

Guna memperluas kapasitas produksi, pada tahun 2016 perusahaan mengembangkan sekitar 500 hektar lahan baru di Blitar, Jawa Timur, untuk menanam pisang Cavendish, jambu kristal, dan nanas Honi.

Integrasi Hulu ke Hilir

Kini, di bawah naungan induk usaha Great Giant Foods (GGF), bisnis buah ini diintegrasikan secara menyeluruh dari hulu ke hilir.

Perusahaan tidak hanya berfokus pada penjualan buah segar, tetapi juga mengintegrasikan sektor peternakan (Great Giant Livestock) dan pengelolaan limbah.

Sisa pengolahan nanas dimanfaatkan menjadi pakan ternak, sementara limbah peternakan diolah kembali menjadi pupuk untuk kebun.

Bahkan, limbah pengolahan dikembangkan menjadi sumber biogas serta ekstraksi enzim bromelain dari batang nanas.

​Di sektor hilir, diversifikasi produk terus digencarkan melalui peluncuran jus buah segar kemasan kaleng serta ekspansi jaringan gerobak keliling.

Selain itu, sejak tahun 2014, perusahaan meluncurkan Rejuve, pionir cold-pressed juice berbasis teknologi High Pressure Processing (HPP).

Langkah terintegrasi dari hulu ke hilir ini menjadikan Gunung Sewu berhasil menguasai seluruh mata rantai nilai industri buah di Indonesia. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
sunpride pisang cavendish angko subroto gunung sewu lampung