RADARTUBAN – Kabut asap kebakaran kalimantan menggantung tebal, menutup jarak pandang dan membuat hutan seolah tenggelam dalam selimut kelabu.
Bahkan Sungai Kapuas yang biasanya menjadi jalur kehidupan mulai mengering. Parahnya keadaan, tidak menghalangi Chanee Kalaweit berangkat menuju kawasan hutan.
Namun, perjalanan kali ini terasa berbeda. Tidak banyak canda. Tidak ada semangat yang biasanya terdengar dalam setiap langkahnya.
Yang tersisa adalah wajah muram seorang lelaki yang terlalu sering menyaksikan hutan terbakar, sementara kemampuannya untuk menghentikan kerusakan itu begitu terbatas.
Chanee Kalaweit merupakan aktivis lingkungan dan konservasi satwa liar keturunan Prancis yang telah lama menetap di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Baca Juga: Cegah Karhutla Saat Kemarau, Damkar Tuban Minta Warga Tak Bakar Sampah dan Puntung Rokok
Melalui unggahan di kanal YouTube-nya, ia memperlihatkan kondisi hutan Kalimantan di tengah musim kemarau ekstrem dan bencana kebakaran yang mengancam kawasan hutan.
Sebagai pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee harus menghadapi kabut asap dengan jarak pandang yang sangat buruk. Membuat pesawat patroli tidak dapat digunakan secara maksimal untuk memantau kawasan hutan dan titik-titik kebakaran.
Pemantauan kemudian dialihkan menggunakan drone termal untuk mendeteksi panas serta aplikasi Nusantara Atlas guna melihat titik api.
Akan tetapi, teknologi juga tidak mampu menghapus kegelisahan yang muncul ketika hutan di sekelilingnya semakin kering.
Jalur sungai pun tidak lagi mudah dilalui. Air yang menyusut membuat perahu kesulitan bergerak.
Ia bahkan harus memiringkan mesin perahu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati kawasan lumbur dasar sungai.
Ditengah perjalanan , Ia mencurahkan perasaan yang selama ini mungkin sulit disampaikan.
Upaya Puluhan tahun menjaga hutan dan menyelamatkan satwa liar membuatnya sadar bahwa perjuangan konservasi sering kali tidak sebanding dengan kerusakan yang terjadi.
“Tapi itu tetap aja merasa apa pun usahanya enggak ada gunanya... Kita nyelamatin beberapa ribu hektar yang dihancurkan ratusan ribu,” ujarnya.
Ada kesedihan yang terasa kuat dalam kalimatnya. Chanee bukan tidak ingin berjuang. Ia justru terlalu peduli sehingga kerusakan yang terjadi terasa sangat menyakitkan baginya.
Bahkan, pujian dari orang-orang yang mengapresiasi perjuangannya justru membuatnya merasa malu.
“Walaupun kita didukung, kadang aku juga merasa malu sama kalian yang menyampaikan, ‘Terima kasih Chanee sudah berjuang untuk hutan Indonesia’. Aku enggak berjuang untuk hutan Indonesia, aku berjuang mempertahankan satu pulau kecil hutan,” katanya.
Menurutnya, mempertahankan kawasan kecil saja sudah menjadi perjuangan yang sangat berat. “Nah itu aja setengah mati dan banyak keraguan enggak yakin bisa.”
Kekeringan yang semakin parah membuat kekhawatiran Chanee bukan tanpa alasan. Hutan yang kehilangan kelembapan menjadi lebih mudah terbakar.
Jika api meluas, yang terancam bukan hanya pepohonan, tetapi juga habitat berbagai satwa liar, termasuk orangutan, monyet, buaya sumpit, dan babi hutan.
Ia juga menyoroti masalah pembakaran lahan. Ia menilai praktik berladang bergilir masyarakat adat tidak semestinya dijadikan kambing hitam atas bencana asap.
Menurutnya, persoalan yang lebih serius adalah pembakaran lahan dalam skala besar yang mengatasnamakan kepentingan tertentu, termasuk pembukaan perkebunan , dan menanam sawit.
Karena itu, ia mendorong penegakan hukum yang lebih tegas, terutama di wilayah rawan seperti lahan gambut. Larangan penggunaan api selama periode kemarau panjang, menurutnya, harus benar-benar ditegakkan dan disertai patroli untuk mencegah kebakaran sejak dini.
“Kalau cinta hutan, cinta lingkungan, di musim seperti ini sulit banget untuk tetap bersemangat,” ucap Chanee.
Kabut asap mungkin suatu hari akan menghilang. Sungai mungkin kembali dialiri air ketika hujan datang. Namun, bagi Chanee, luka pada hutan tidak semudah itu pulih.
Di tengah kepulan asap, suara Chanee terdengar seperti suara seseorang yang sedang mempertahankan harapan terakhirnya. Ia tahu perjuangannya kecil dibandingkan luasnya kerusakan.
Tetapi selama masih ada hutan yang bisa diselamatkan, ia tetap memilih berangkat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni