RADARTUBAN - Perubahan iklim dan cuaca ekstrem kini menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan sektor pertanian global, tidak terkecuali tanaman kopi Sumatera.
Kenaikan suhu permukaan bumi yang memicu perkembangan hama serangga serta pertumbuhan tanaman yang kerdil mulai mengancam produktivitas kopi Sumatera, salah satu varietas unggulan Indonesia yang diminati pasar internasional.
Menanggapi tantangan ekologis tersebut, para petani di kawasan Berastagi, Sumatera Utara, mulai mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan bimbingan ahli agronomi dari Farmer Support Center (FSC).
Baca Juga: Kopi Kekinian Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes? Ini Penjelasan di Balik Kandungan Gulanya
Dalam metode yang dikenal sebagai Coffee and Farmer Equity (C.A.F.E.) Practices, para petani diajarkan untuk meninggalkan pola tanam tunggal dan beralih ke sistem agroforestri.
Teknik ini menerapkan penanaman pohon lamtoro di sela-sela tanaman kopi untuk berfungsi sebagai pelindung alami (shade tree) yang menjaga suhu mikro tanah tetap sejuk.
Selain mengendalikan suhu, pangkasan daun lamtoro dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara kotoran ternak diolah kembali menjadi pupuk kompos alami.
Salah seorang petani kopi di Berastagi, Ngaman Kenpelawi, mengakui bahwa pola tanam berkelanjutan ini terbukti menyelamatkan tanamannya dari cuaca ekstrem.
"Kalau kopi pada umumnya, musim panas itu enggak tahan. Kalau enggak pakai pohon naungan seperti lamtoro, tanaman bisa kerdil dan mati. Dengan pola tanam ini, tanaman kopi lebih tahan cuaca berubah-ubah dan hasilnya jauh lebih produktif dibandingkan yang tidak pakai naungan," ungkap Ngaman.
Selain lamtoro, petani juga menanam komoditas lain seperti cabai, selada, hingga pisang di lahan yang sama.
Langkah ini tidak hanya membantu menjaga fungsi ekologis tanah serta menyerap emisi karbon, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga petani di luar musim panen kopi.
Program pemberdayaan perempuan berbasis pertanian ramah lingkungan ini turut didorong oleh lembaga kemanusiaan untuk memperkuat kemandirian ekonomi pedesaan.
Tidak hanya dari sisi budidaya di hilir, kualitas biji kopi Sumatera tetap dipertahankan melalui metode pengolahan khas wet hulled (giling basah) serta proses penyortiran presisi tinggi berbasis teknologi laser dan sortir manual oleh tenaga kerja perempuan.
Hasil uji cita rasa (cupping) membuktikan bahwa biji kopi dari varietas unggul yang tahan iklim ini tetap memiliki karakter rasa yang bold, earthy, dan kompleks.
Inovasi budidaya ini membuktikan bahwa perlindungan lingkungan dan keberlanjutan ekonomi dapat berjalan beriringan, menjaga cita rasa legendaris kopi Indonesia agar terus menggetarkan lidah pecinta kopi di seluruh dunia. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari