RADARTUBAN – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah gunung api tersebut mengalami rangkaian erupsi.
Letusan pada malam hari memperlihatkan pendaran merah dari material vulkanik yang keluar dari kawah. Aktivitas tersebut juga disertai suara dentuman dan gemuruh yang dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda.
Fenomena yang muncul dalam erupsi kali ini dikenal sebagai lava fountain atau air mancur lava. Semburan material pijar tersebut terjadi ketika magma cair terdorong keluar dari kawah akibat tekanan gas vulkanik.
Baca Juga: Empat Kali Gagal, Pembangunan TPST TPA Gunung Panggung Tuban Kembali Batal
Semburan Lava Pijar dan Abu Vulkanik
Badan Geologi mengidentifikasi karakter erupsi Gunung Anak Krakatau sebagai tipe Strombolian.
Erupsi tipe ini umumnya berlangsung dalam bentuk letusan-letusan yang relatif kecil tetapi dapat terjadi berulang. Dalam prosesnya, gunung api dapat mengeluarkan sejumlah material vulkanik.
Material yang berpotensi terlontar antara lain batu pijar, sementara abu vulkanik dapat terbawa angin mengikuti arah dan kecepatan angin. Selain itu, magma yang keluar dalam kondisi cair dapat membentuk aliran lava di lereng gunung.
Suara dentuman dan gemuruh yang terdengar masyarakat di sejumlah daerah juga berkaitan dengan aktivitas erupsi serta pelepasan tekanan gas dari dalam gunung.
Tsunami 2018 Kembali Jadi Perhatian
Aktivitas Anak Krakatau tentu mengingatkan masyarakat pada peristiwa 22 Desember 2018. Saat itu, sebagian tubuh gunung mengalami longsor ke laut dan memicu tsunami di kawasan pesisir Banten dan Lampung.
Kondisi tersebut membuat setiap peningkatan aktivitas Anak Krakatau selalu mendapat perhatian, terutama terkait kemungkinan terjadinya longsoran material ke laut.
Namun, kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini disebut berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018. Pertumbuhan tubuh gunung pascakeruntuhan tersebut masih relatif terbatas sehingga volume material yang tersedia dinilai belum sebesar kondisi sebelum tsunami 2018.
Meski demikian, potensi bahaya tetap dipantau secara intensif. Perubahan bentuk tubuh gunung dan aktivitas vulkaniknya terus diamati untuk mengantisipasi perkembangan situasi.
Untuk kondisi saat ini, ancaman yang lebih dekat dengan pusat erupsi antara lain lontaran batu pijar serta panas dari material lava.
Baca Juga: Siap-Siap Operasional TPST Gunung Panggung, Pemkab Tuban Mulai Petakan Anggaran BBM Kendaraan
Warga Diminta Menjauh dari Kawah
Dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih tinggi, masyarakat maupun wisatawan diminta tidak mendekati kawasan kawah aktif.
Area dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah menjadi zona yang harus dihindari dari aktivitas manusia, termasuk kegiatan wisata maupun pendakian.
Masyarakat pesisir Banten dan Lampung juga diminta tidak panik menyikapi aktivitas vulkanik tersebut. Warga dianjurkan memperoleh informasi hanya dari sumber resmi dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi.
Pembaruan mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui informasi resmi Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Warga juga diminta mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) apabila terjadi perubahan kondisi yang membutuhkan langkah evakuasi atau tindakan keselamatan lainnya.
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni