RADARTUBAN - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali berdampak pada sektor transportasi udara nasional.
Erupsi yang terjadi baru-baru ini memicu gangguan operasional signifikan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten.
Puluhan rute penerbangan domestik maupun internasional terpaksa dibatalkan dan disesuaikan demi mengutamakan keselamatan para penumpang.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Ir. Lukman F. Laisa. menyatakan bahwa berdasarkan hasil pemantauan hingga Sabtu (5/9) pukul 22.00 WIB, tercatat sedikitnya 33 penerbangan terdampak sebaran abu vulkanik.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, PVMBG Minta Masyarakat Jauhi Radius 3 Km!
Langkah tegas berupa penundaan hingga pembatalan rute diambil karena keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Rincian Dampak Operasional Penerbangan
Sektor Internasional
Sebanyak 16 penerbangan internasional resmi dibatalkan. Selain itu, terdapat 7 penerbangan yang mengalami penundaan (delay) dan 5 penerbangan dijadwalkan ulang (reschedule).
Rute yang terganggu mencakup kota-kota besar dunia, seperti Singapura (SIN), Hong Kong (HKG), Sydney (SYD), Seoul/Incheon (ICN), Doha (DOH), Amsterdam (AMS), hingga Kuala Lumpur (KUL).
Sektor Domestik
Untuk penerbangan dalam negeri, terdapat 4 penerbangan yang dibatalkan dan 1 penerbangan terpaksa dialihkan (divert). Gangguan ini dirasakan pada rute penerbangan dari dan menuju Lampung (TKG), Denpasar (DPS), serta Surabaya (SUB).
Antisipasi Dampak Lanjutan
Kementerian Perhubungan kini menaruh perhatian khusus pada proses pemulihan jadwal operasional.
Erupsi ini berpotensi menimbulkan efek berantai (cascading impact) yang cukup serius, mulai dari kekacauan rotasi pesawat, keterbatasan armada siap pakai, hingga penumpukan calon penumpang di area terminal.
Pihak otoritas penerbangan mengimbau seluruh maskapai untuk aktif memberikan informasi terbaru serta solusi terbaik bagi calon penumpang yang terdampak, baik melalui opsi pengembalian dana (refund) maupun penjadwalan ulang penerbangan. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban