RADARTUBAN - Seorang pemuda bernama Yadi, yang akrab disapa Tole, harus menerima nasib pilu setelah dipasung di dalam kurungan berbahan kayu kelapa di belakang rumahnya.
Pengurungan yang berlangsung selama kurang lebih satu tahun tersebut dilakukan oleh pihak keluarga lantaran perubahan perilaku Yadi yang cenderung agresif.
Kondisi kesehatan mental inilah yang memicu pihak keluarga mengambil keputusan ekstrem tersebut demi keamanan lingkungan sekitar.
Berdasarkan dari kanal YouTube Ego Adriano, gangguan mental yang dialaminya bermula dari kecanduan gawai (gadget) dan game daring Free Fire (FF) yang sangat parah. Emosi Yadi menjadi tidak terkontrol setiap kali keinginannya tidak diturutin atau gawai miliknya bermasalah.
Baca Juga: Kecanduan Konten Cepat Ancam Generasi Muda, Mampukah Capai Visi Indonesia Emas 2045?
Bahkkan sebelum dipasung, Yadi tercatat pernah merusak dan menghancurkan sedikitnya tujuh unit ponsel miliknya. Karena perilakunya yang sering mengancam keselamatan keluarga, pengurungan pun terpaksa dilakukan.
Akibat dipasung dalam kurungan yang hanya beratapkan terpal dan plastik, kondisi fisik Yadi mengalami penurunan drastis. Badannya tampak mengurus, matanya sayup, dan otot-otot kakinya mulai melemah serta mengecil akibat keterbatasan ruang untuk bergerak.
Tempat pengurungannya yang serba terbuka juga membuat Yadi rentan terpapar cuaca dingin dan angin malam.
Mendapat informasi mengenai kondisi Yadi, tim relawan Kemanusiaan Ego Andriano bergerak menuju lokasi untuk melakukan proses evakuasi. Bersama warga dan pihak keluarga, tim merobohkan kurungan kayu kelapa tersebut untuk membebaskan Yadi.
Setelah berhasil dikeluarkan, Yadi langsung dicukur, dibersihkan, dan dimandikan sebelum dipersiapkan menuju fasilitas kesehatan.
Yadi kemudian diboyong menggunakan mobil menuju Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Soeharto Heerdjan Grogol, Jakarta Barat, untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Yadi direncanakan menjalani perawatan intensif di RSJ selama 10 hingga 15 hari.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi para orang tua dan masyarakat akan bahaya nyata dari kecanduan gawai pada remaja yang tidak terontrol. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni