Cing Abdel Kritik Gaya Pidato Prabowo: Jangan Buru-Buru Mengejar Punchline

Nadia Aulia • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 17:07 WIB
Cing abdel  menyoroti gaya pidato Prabowo dan pentingnya memahami realitas rakyat. (Tangkapan layar Youtube Totalpolitik)
Cing abdel menyoroti gaya pidato Prabowo dan pentingnya memahami realitas rakyat. (Tangkapan layar Youtube Totalpolitik)

RADARTUBAN - Gaya pidato Presiden Prabowo Subianto selalu menjadi perhatian masyarakat luas. Hal tersebut tak luput dari pandangan Abdel Achrian atau yang dikenal Cing Abdel. 

Seorang komika terbiasa mengukur setiap kata, jeda, dan reaksi penonton. Dia melihat bahwa gaya pidato Presiden Prabowo tidak hanya menyoroti isi pesan, tetapi juga cara pesan tersebut dibangun dan disampaikan.

Dilansir dari Youtube Total Politik, Abdel menilai Prabowo terkadang terlalu cepat mengejar inti pembicaraan atau punchline.

Menurutnya, kecenderungan tersebut sering  terlihat ketika presiden melakukan improvisasi di luar teks yang telah disiapkan.

Dari perspektif komedi, ritme menjadi bagian penting agar sebuah pesan dapat diterima dengan baik. Jika terlalu terburu-buru, bagian yang seharusnya menjadi penekanan justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Baca Juga: Dukung Arahan Presiden Prabowo, BRI Siap Perluas Kepemilikan Rekening dan Akses Perbankan

Abdel kemudian menyinggung pernyataan “10 + 6 = 17” yang sempat ramai diperbincangkan. 

Dia menyampaikannya dengan gaya khas komedian, tetapi sekaligus memberikan kritik terhadap pentingnya ketelitian dalam pidato seorang pemimpin.

“Yang fenomenal itu kan yang 10 + 6 sama dengan 17. Itu sebenarnya kalau kata gue sih dia pengin buru-buru ke delapan itu. Kalau dia sabar aja sampai 2026, itu akan 8. Pak, kalau mau sabar, jangan buru-buru punchline-nya!” ujarnya.

Bagi Abdel, persoalan komunikasi bukan hanya tentang apakah seseorang memiliki pesan yang ingin disampaikan, tetapi apakah pesan tersebut bisa dipahami tanpa harus berkali-kali diterangkan.

“Kalau di dalam komedi, jokes yang harus dijelaskan itu adalah jokes yang enggak berhasil,” katanya.

Dia bahkan menyarankan agar materi yang akan disampaikan secara spontan terlebih dahulu diuji kepada komika.

“Jadi tolong yang itu di-open mic-in dulu ditanya dulu aja sama komedian. ‘Kalau gua bawain gini gimana ya?’” ujarnya.

Namun, kritik Abdel tidak berhenti pada teknik berpidato saja. Dia juga menyoroti pentingnya pemimpin memahami kondisi masyarakat secara langsung. Salah satu contoh yang ia gunakan berkaitan dengan pekerja pengupas bawang dan nominal penghasilannya.

Menurutnya,  pemimpin perlu memahami konteks di balik angka yang diterima masyarakat.

Perbedaan latar belakang ekonomi dapat membuat seseorang memiliki persepsi yang berbeda terhadap nilai uang. Karena itu, angka dalam laporan tidak cukup jika tidak disertai pemahaman mengenai kondisi orang yang menjalani kehidupan tersebut.

Baca Juga: Prabowo Hadiri Kondangan Saat Bencana, Pandji Soroti Kehadiran Presiden di Tengah Krisis

Ia menilai orang yang memiliki kekuasaan justru harus lebih banyak memahami kehidupan masyarakat. 

“Pada saat konteksnya orang kaya itu punya power untuk menentukan hidup orang banyak, ya menurut gue orang yang punya kekuasaan itu, mau kaya, mau miskin, mereka yang harus lebih banyak ngerti,” katanya.

Pemahaman tersebut penting agar komunikasi pemerintah tidak berjarak dengan realitas masyarakat. Data dan angka yang digunakan dalam pidato maupun kebijakan harus benar-benar dipahami konteksnya.

Dari sudut pandang seorang komika, Abdel mengingatkan bahwa komunikasi publik membutuhkan lebih dari sekadar keberanian berbicara.

Ada ritme, ketepatan, konteks, dan kepekaan terhadap audiens. Sebab, ketika seorang pemimpin berbicara, setiap kata bukan hanya didengar, tetapi juga ditafsirkan oleh jutaan orang.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
gaya pidato abdel punchline Komedi presiden prabowo subianto