RADARTUBAN — Ketika seorang muslimah memilih melepas hijab, respons yang muncul di media sosial kerap berupa teguran keras, celaan, hingga penghakiman.
Namun, menurut Ustaz Felix Siauw, cara seperti itu justru berpotensi membuat seseorang semakin jauh dari Islam.
Ustadz Felix menyampaikan pandangannya melalui youtubenya , Ia menilai persoalan hijab tidak cukup dilihat dari tindakan seseorang semata. Hal yang lebih penting adalah memahami alasan di balik keputusan itu.
“Kalau dia melepas hijab, ini adalah hal yang paling terakhir yang aku permasalahkan. Karena hal yang paling pertama yang harus aku cari tahu adalah kenapa dia bisa melepas hijab,” ujar Felix.
Baca Juga: Kemhan Tegaskan Tak Ada Larangan Hijab bagi Kadet Perempuan Unhan, Ini Penjelasannya
Menurutnya, fenomena penggunaan hijab di Indonesia telah mengalami perubahan. Sekitar 2012, hijab syar’i masih tergolong jarang dan kerap dianggap identik dengan kalangan tertentu.
Kini, penggunaan kerudung dan gamis telah menjadi sesuatu yang umum di masyarakat.
Perubahan tersebut, juga menghadirkan dinamika baru. Ketika hijab telah menjadi sesuatu yang mainstream, muncul narasi yang mempertanyakan relevansinya, termasuk anggapan bahwa hijab merupakan bentuk pemaksaan, pembatasan kebebasan, atau sekadar tradisi.
Dengan munculnya intimidasi seperti itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan media sosial sebagai ruang untuk menghakimi.
Menurutnya, komentar yang berisi celaan atau ancaman justru dapat digunakan seseorang sebagai alasan untuk semakin menjauh dari ajaran agama.
“Jangan bikin komen-komen yang menjadikan orang merasa makin jauh dari Islam,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa hijab dalam pemahamannya tidak hanya berkaitan dengan penutup kepala.
Hijab mencakup pakaian bagian atas berupa khimar atau kerudung, pakaian bagian bawah berupa jilbab atau gamis, serta perilaku yang tidak berlebihan dalam berhias atau tabarruj.
Ia turut menanggapi anggapan bahwa menjalankan aturan agama merupakan sesuatu yang ribet.
Padahal setiap pilihan hidup memiliki standar dan konsekuensi masing-masing. Seseorang yang tidak memilih standar Islam pun tetap akan mengikuti standar lain dalam kehidupannya.
“Hidup mau kayak apa kita selalu akan ngambil standar-standar tertentu. Andaikan kita tidak mengambil standar Islam, kita akan mengambil standar yang lain yang juga sama sibuknya,” tuturnya.
Persoalan utama bukan sekadar bagaimana seseorang mengenakan hijab, melainkan mengapa seseorang memilih untuk taat. Ia menilai perubahan perilaku perlu diawali dengan pemahaman dan kesadaran terhadap alasan beragama.
“Ketaatan itu tidak pernah dimulai dengan pertanyaan ‘how’ (bagaimana caranya), tapi selalu dimulai dengan pertanyaan ‘why’,” ujarnya.
Oleh karena itu, mengajak seseorang mendekat kepada Islam lebih penting daripada sekadar memarahinya. memahami alasan di balik pilihan seseorang menjadi langkah awal sebelum menilai perilaku yang hanya tampak di permukaan.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni