BBM Subsidi Tak Naik Meski Minyak Dunia Mendekati US$ 108 per Barel, Ini Perintah Prabowo

Tulus Widodo • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 09:59 WIB
Pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi di tengah lonjakan minyak dunia.
Pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi di tengah lonjakan minyak dunia.

RADARTUBAN – Harga minyak dunia kembali mengamuk. Patokan Brent meroket ke US$ 107,63 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh US$ 102,48 per barel. 

Namun, di tengah tekanan energi global tersebut, pemerintah justru mengambil keputusan yang bisa membuat anggaran negara bekerja lebih keras: harga BBM subsidi tidak dinaikkan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan harga Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan. 

Keputusan tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah, meski konsekuensinya adalah potensi bertambahnya beban subsidi energi.

Baca Juga: Harga Baru BBM Awal September 2026 Banyak yang Mengalami Kenaikan

Minyak Dunia Menggila, Harga Dalam Negeri Ditahan

Keputusan pemerintah ini datang ketika pasar minyak global kembali berada dalam tekanan. Harga Brent dan WTI kini berada di level tertinggi sejak 19 Mei 2026.

Secara teori, lonjakan harga minyak mentah bisa menekan biaya penyediaan BBM dan memperlebar kebutuhan subsidi. 

Namun pemerintah memilih tidak langsung meneruskan tekanan tersebut kepada konsumen.

Bahlil menegaskan kebijakan itu diambil untuk melindungi masyarakat.

“Pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM subsidi,” demikian garis besar keputusan pemerintah yang disampaikan Bahlil, mengikuti arahan Presiden Prabowo.

Ada Risiko Beban APBN Membengkak

Pilihan menahan harga tentu bukan tanpa konsekuensi.

Jika harga minyak global bertahan tinggi, selisih antara harga keekonomian dan harga jual BBM subsidi berpotensi semakin lebar. 

Negara harus menanggung bagian yang lebih besar agar harga di tingkat konsumen tetap terkendali.

Namun pemerintah masih memiliki ruang bernapas.

Bahlil menjelaskan rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) Januari-September 2026 masih berada di kisaran US$ 85-US$ 90 per barel. 

Angka tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah menilai postur anggaran masih sanggup menopang kebijakan subsidi.

Daya Beli Jadi Taruhan

Keputusan Prabowo pada akhirnya bukan sekadar perkara harga Pertalite dan Biosolar.

BBM memiliki efek berantai terhadap ongkos transportasi, distribusi barang hingga harga kebutuhan masyarakat. Ketika harga BBM melonjak, tekanan tidak berhenti di SPBU.

Karena itu, pemerintah memilih menahan gejolak di level konsumen sembari memantau perkembangan minyak dunia.

Pertanyaannya tinggal satu: berapa lama APBN mampu menjadi bantalan jika harga minyak terus bertahan di atas US$ 100 per barel?

Sebab menahan harga BBM memang bisa menyelamatkan dompet masyarakat hari ini. Tetapi jika gejolak energi berlangsung lama, tagihannya tetap harus dibayar negara. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
bbm subsidi minyak dunia WTI