Bukan Keturunan Dinosaurus, Ini Alasan Komodo Hanya Betah Hidup di Nusa Tenggara Timur

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 14:03 WIB
Komodo, kadal terbesar di dunia yang menjadi simbol warisan evolusi satwa purba. (Pinterest.com)
Komodo, kadal terbesar di dunia yang menjadi simbol warisan evolusi satwa purba. (Pinterest.com)

RADARTUBAN - Di antara ribuan spesies reptil yang tersebar di belahan bumi, Komodo (Varanus komodoensis) menjadi salah satu satwa paling luar biasa.

Sebagai kadal terbesar yang masih hidup saat ini, predator puncak tersebut dapat tumbuh hingga panjang 3 meter dengan bobot mencapai lebih dari 70 kilogram.

Walaupun memiliki kemampuan berenang yang mahir di lautan, populasi liar satwa purba ini secara alami hanya dapat ditemukan di wilayah Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

​Penelitian mengenai perilaku Komodo menunjukkan alasan mendasar mengapa penyebarannya sangat terbatas. Komodo memiliki sifat yang sangat setia pada wilayah tempat mereka dilahirkan (homebody) dan cenderung enggan menjelajah ke daerah baru yang asing.

Dalam uji pengamatan jangka panjang, beberapa individu Komodo yang sengaja dipindahkan puluhan kilometer dari habitat asalnya terbukti mampu menemukan jalan pulang hanya dalam hitungan bulan.

Baca Juga: Gempa Besar Guncang NTT, Kenapa Gempa Susulan Bisa Terjadi Ribuan Kali?

Karakteristik tidak suka merantau ini, dipadu dengan ekosistem sabana kering NTT yang melimpah akan mangsa seperti rusa dan babi hutan, membuat populasi Komodo tetap terkonsentrasi di Indonesia selama jutaan tahun.

Di sisi lain, anggapan populer yang menyebut Komodo sebagai penyintas dari zaman dinosaurus rupanya keliru secara taksonomi.

Secara ilmiah, Komodo masuk dalam ordo Squamata yang berkerabat dekat dengan biawak, kadal, dan ular. Sementara itu, dinosaurus berasal dari kelompok Archosauria yang menjadi nenek moyang buaya serta burung modern.

Temuan fosil terbaru justru mengungkap bahwa nenek moyang Komodo berevolusi di Australia sekitar 4 juta tahun lalu sebelum akhirnya bermigrasi ke arah barat menuju Kepulauan Nusantara saat permukaan air laut masih rendah.

​Sebagai predator puncak, keunggulan Komodo tidak hanya terletak pada ketajaman cakar dan puluhan gigi bergerigi, melainkan pada keberadaan kelenjar bisa di rahang bawahnya.

Bisa ini bekerja menurunkan tekanan darah secara drastis serta mencegah pembekuan darah pada mangsanya. 

Dipadukan dengan organ Jacobson di langit-langit mulut yang mampu melacak aroma bangkai hingga jarak beberapa kilometer, Komodo menjadi mesin pemburu yang amat efisien.

Kini keberadaan satwa endemik kebanggaan Indonesia tersebut menghadapi tantangan nyata akibat perubahan iklim, kebakaran hutan, hingga penyusutan rantai makanan.

Perlindungan ketat di kawasan Taman Nasional Komodo menjadi krusial guna menjaga keberlanjutan kisah evolusi yang berharga ini.

Baca Juga: Batal Tinjau Gempa NTT Sabtu Lalu, Ke Mana Presiden Prabowo? Ini Penjelasannya

​Narator dalam kanal Meganta menegaskan pentingnya menjaga kelestarian kadal raksasa ini bagi dunia ilmiah dan warisan alam Indonesia.

​"Sebagai kadal terbesar di dunia yang hanya dimiliki Indonesia, keberadaan Komodo merupakan warisan alam yang tidak tergantikan. Menjaga mereka tetap hidup berarti menjaga salah satu kisah evolusi paling menakjubkan yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini," paparan narator kanal Meganta.

​Upaya konservasi secara konsisten diharapkan mampu memastikan habitat asli Komodo tetap terjaga dari gangguan aktivitas manusia dan dampak perubahan iklim global. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Komodo dinosaurus nusa tenggara timur satwa