Karhutla Kepung Hutan Kalimantan, Orang Utan Kehilangan Habitat hingga Terancam Kekurangan Makanan

Nadia Aulia • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 15:39 WIB
Orang utan Kalimantan menghadapi ancaman akibat karhutla. (Dok. Worldwildlife)
Orang utan Kalimantan menghadapi ancaman akibat karhutla. (Dok. Worldwildlife)

RADARTUBAN – Bagi orang utan di Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar ancaman dari kobaran api.

Ketika hutan terbakar dan asap menyelimuti habitatnya, satwa tersebut harus menghadapi hilangnya tempat tinggal, berkurangnya sumber makanan, gangguan pernapasan, hingga disorientasi saat berusaha menyelamatkan diri.

Kondisi itu disoroti kreator konten Ferry Irwandi melalui videonya yang membahas kecerdasan sekaligus penderitaan orang utan di Kalimantan.

Dengan  mewawancarai Ketua Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, mengenai kondisi orang utan yang terdampak karhutla.

Orang utan dikenal memiliki kecerdasan intelektual dan emosional yang tinggi. Satwa ini mampu memecahkan masalah, beradaptasi dengan lingkungan, serta mengajarkan cara bertahan hidup kepada anaknya. 

Namun, kecerdasan tersebut tidak cukup untuk menghindarkan mereka dari ancaman kebakaran dan asap.

Baca Juga: Orang Utan yang Pingsan Akibat Asap Karhutla di Kalbar Meninggal Dunia

Salah satu dampak terbesar karhutla adalah hilangnya sumber makanan. Asap tebal dapat membuat lebah pergi sehingga proses penyerbukan tanaman di hutan terganggu. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada ketersediaan buah sebagai makanan orang utan.

“Asap itu bisa membuat lebah pergi. Setelah asap selesai, tidak ada lagi satwa yang membantu polinasi. Makin lama asap, makin lamalah di hutan itu ada kelangkaan bahan makanan buat orang utan,” ujar Jamartin.

Asap juga berdampak langsung terhadap kesehatan orang utan, termasuk satwa yang berada di pusat rehabilitasi. Sedikitnya 21 individu orang utan disebut terpapar Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Satwa dengan riwayat gangguan pernapasan juga menghadapi risiko lebih berat.

Sementara itu, orang utan yang berada di alam liar menghadapi persoalan lain. Asap pekat dapat mengganggu orientasi ketika mereka berusaha menghindari kawasan yang terbakar.

Satwa yang kehilangan arah berpotensi masuk ke permukiman warga atau kawasan pertambangan sehingga meningkatkan risiko konflik dengan manusia.

Untuk mengantisipasi hal itu, BOSF bekerja sama dengan BKSDA menyediakan layanan tanggap darurat atau hotline 24 jam untuk mengevakuasi orang utan yang terjebak.

Selama lebih dari 35 tahun, BOSF menjalankan berbagai upaya konservasi, mulai dari penyelamatan, rehabilitasi dan pelepasliaran, penyediaan pulau suaka, studi perilaku orang utan liar, hingga pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.

Ia menilai kesejahteraan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga hutan. “Jangan pernah bicara konservasi sama orang yang perutnya lapar... kalau orang lapar dia enggak peduli dengan konservasi,” katanya.

Di tengah persoalan tersebut, Ferry Irwandi menyalurkan sebagian dana patungan hutan  kepada BOSF untuk mendukung operasional tim pemadam, perawatan medis orang utan terdampak asap, reforestasi kawasan terbakar, serta proses pelepasliaran orang utan kembali ke alam.

Baginya, menyelamatkan orang utan bukan hanya tentang melindungi satu spesies. Orang utan berperan dalam regenerasi hutan melalui penyebaran biji.

“Menyelamatkan orang utan bukan karena kita sayang sama dia saja tapi ujungnya ketika orang utan di hutan dia menyemai hutan, dia membuat kita hidup,” ujar Jamartin.

Karena itu, ketika orang utan kehilangan habitatnya, yang terancam bukan hanya satu spesies, tetapi juga keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan manusia.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
orang utan karhutla kebakaran hutan dan lahan kalimantan Habitat