Sungai Besar Kalimantan Mulai Mengering, Pasokan Batu Bara ke PLTU Jawa Terancam Lumpuh

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 16:00 WIB
Penampakan sungai Kapuas di Kalimantan yang saat ini mengering. (youtube.com/ Kendati Demikian)
Penampakan sungai Kapuas di Kalimantan yang saat ini mengering. (youtube.com/ Kendati Demikian)

RADARTUBAN – Kerusakan ekologis parah yang melanda kawasan Pulau Kalimantan kini mulai mengancam stabilitas energi nasional, khususnya keandalan pasokan listrik bagi masyarakat di Pulau Jawa.

Kerusakan sistem hidrologis yang memicu pendangkalan ekstrem serta kekeringan di sepanjang aliran sungai-sungai besar Kalimantan membuat jalur transportasi armada kapal pengangkut batu bara lumpuh total.

Aliran sungai utama seperti Sungai Barito dan Sungai Kapuas di Kalimantan dilaporkan mulai berubah menjadi hamparan pasir kering akibat hilangnya pasokan air secara drastis.

Baca Juga: Ketika Kerusakan Alam dari Hulu-Hilir Makin Parah: Tobat, Lakukan Perbaikan, Atau Menyesal Kemudian

Fenomena alam yang mengkhawatirkan ini ternyata bukan sekadar dampak langsung dari perubahan iklim global atau fluktuasi cuaca biasa seperti El Nino, melainkan bentuk akumulasi nyata dari kerusakan struktural yang sangat parah pada ekosistem lingkungan setempat.

Alih Fungsi Lahan Hancurkan Fungsi Alami Lingkungan

Hilangnya fungsi ekologis hutan hujan tropis yang selama ini bertindak sebagai spons raksasa penyerap air hujan menjadi faktor mendasar mengapa sungai-sungai besar tersebut kehilangan debit air secara cepat saat musim kemarau tiba.

Praktik alih fungsi lahan secara masif untuk pembukaan perkebunan monokultur kelapa sawit serta pemekaran kawasan pertambangan batu bara terbukti telah menghancurkan mekanisme pelestarian alam secara permanen.

Degradasi kawasan lahan gambut yang kian diperparah oleh pembuatan jaringan kanal drainase buatan membuat rawa-rawa kehilangan total kemampuan alaminya dalam menahan serta menyimpan cadangan air.

Tanpa adanya perlindungan dari kanopi pohon-pohon besar, lapisan tanah di sekitar bantaran sungai menjadi sangat rapuh, mudah longsor, dan rentan mengalami erosi parah tiap kali diguyur hujan deras.

Akibatnya, jutaan ton material lumpur terbawa arus dan mengendap di dasar sungai, memicu pendangkalan massif yang mematikan aliran perairan.

Pasokan Batu Bara Terhenti, Pulau Jawa Terancam Gelap Gurita

Dampak buruk dari bencana lingkungan ini tidak lagi hanya dirasakan oleh komunitas warga lokal di kawasan pedalaman Kalimantan, tetapi sudah merembet pada ancaman krisis energi skala nasional.

Jalur perairan sungai yang selama ini menjadi sarana transportasi dan urat nadi distribusi batu bara kini tidak dapat dilalui oleh kapal tongkang akibat dasar sungai yang mengering.

Kondisi kritis tersebut secara otomatis memutus mata rantai pasokan batu bara yang menjadi bahan bakar utama bagi pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Pulau Jawa.

Berdasarkan ulasan mendalam yang diunggah melalui kanal YouTube Kendati Demikian Studio bertajuk "Penggurunan Kalimantan dimulai! Saat Sungai Mati dan listrik Jawa terancam", tersendatnya distribusi material ini menempatkan pasokan listrik Jawa dalam ancaman pemadaman total.

"Apabila Kalimantan dihisab hingga jatuh mati, maka pulau Jawa dipastikan turut tenggelam dalam kegelapan," tegas narator dalam dokumentasi video tersebut.

Apabila kemacetan pasokan energi ini tidak segera ditangani secara serius melalui pemulihan kawasan hulu dan penataan ulang tata ruang, kestabilan arus listrik di Pulau Jawa dipastikan berada di ambang krisis berkepanjangan. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
krisis energi kekeringan degradasi kerusakan kalimantan