RADARTUBAN Buku berjudul Islam Ala Prabowo tengah menjadi perbincangan di media sosial.
Polemik tersebut turut mendapat tanggapan dari pendakwah Ustaz Felix Siauw melalui video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada Senin (14/9).
Dalam videonya, Felix Siauw membahas kontroversi yang muncul setelah buku tersebut diperkenalkan ke publik.
Salah satu hal yang menjadi sorotannya adalah isi buku yang membandingkan Presiden Prabowo Subianto dengan sosok pemimpin Islam yang dianggap ideal, yakni Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Menurut Felix, perbandingan tersebut membuat sebagian masyarakat merasa jengah atau terkejut. Sebab, citra Prabowo di mata sebagian netizen dinilai belum sepenuhnya identik dengan gambaran kepemimpinan maupun amalan Islam yang ideal.
Baca Juga: Polemik Penerbitan Buku Islam ala Prabowo, Buya Taftar: Sarat Glorifikasi Politik yang Berlebihan
Kendati demikian, Felix mengaku tidak mempermasalahkan penggunaan frasa Islam ala Prabowo sebagai judul buku.
Menurut dia, istilah "ala" dapat dimaknai sebagai cara seseorang dalam mengekspresikan atau menjalankan keagamaannya.
“Aku tidak merasa ada masalah dengan judulnya. Yang dimaksud dengan Islam ala Prabowo adalah seolah-olah kayak Islam yang mencoba untuk dipraktikkan dengan cara Pak Prabowo,” ujar Felix Siauw dalam videonya.
Felix kemudian menyoroti pihak yang berada di balik penulisan buku tersebut.
Dia menjelaskan bahwa buku Islam Ala Prabowo bukan ditulis langsung oleh Prabowo, melainkan disusun oleh sebuah tim.
Menurut Felix, tim penulis tersebut justru perlu menjadi perhatian. Dia menilai pujian yang dimuat dalam buku itu dapat terkesan sebagai upaya mencari perhatian atau validasi dari penguasa.
Felix mengingatkan bahwa pujian terhadap seorang pemimpin seharusnya tidak dilepaskan dari bukti nyata yang lebih dulu dirasakan masyarakat.
Menurut dia, karya dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam perlu ditunjukkan sebelum berbagai pujian diberikan.
“Kenyataan bahwa itu adalah ramai, menjadi suatu pertanda bahwa seharusnya ditunjukkan dulu perilaku-perilaku yang islaminya, dibuat dulu image yang bagus tentang Pak Prabowo dan Islamnya atau dibuat dulu sebuah karya-karya nyata yang bisa langsung dirasakan oleh rakyat. Barulah kemudian pujian-pujian itu akan menjadi sesuatu yang produktif,” tegas Felix.
Lebih jauh, Felix menyinggung posisi ulama dan tokoh agama dalam hubungannya dengan penguasa.
Menurut dia, ulama semestinya menjalankan fungsi sebagai pengingat bagi pemimpin, termasuk memberikan nasihat dan teguran ketika diperlukan.
Dia juga menekankan pentingnya menjaga independensi ulama. Felix berpandangan bahwa idealnya ulama tidak mendatangi pintu penguasa demi mendekatkan diri dengan kekuasaan.
Dengan posisi yang tetap independen, ulama dinilai dapat lebih leluasa menjalankan perannya dalam memberikan nasihat dan kritik kepada penguasa tanpa terbebani kepentingan tertentu. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni