RADARTUBAN - Kemacetan parah yang membelit Jakarta hingga kini sulit diurai meski pemerintah telah memancarkan dana besar untuk membangun sarana transportasi modern seperti MRT, LRT, dan TransJakarta.
Terbatasnya ruang jalan serta lonjakan jumlah kendaraan pribadi yang tidak terkendali menjadi penyebab utama permasalahan klasik ibu kota tersebut tak kunjung menemukan titik terang.
Luas Jalan Tak Ideal dan Lonjakan Kendaraan Pribadi
Dilansir dari tayangan di kanal YouTube Dari Suara bertajuk "Kenapa Macet di Jakarta Susah Diselesaikan?", luas ruas jalan di Jakarta saat ini tercatat kurang dari 10 persen dari total wilayah kota.
Angka tersebut berada jauh di bawah standar ideal kota metropolitan yang semestinya mencapai 15 hingga 20 persen.
Kondisi tersebut makin diperparah oleh pertumbuhan pesat populasi kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, yang terus melonjak setiap hari tanpa diimbangi penambahan infrastruktur jalan yang memadai.
Kemudahan sistem cicilan kendaraan turut mendorong masyarakat lebih memilih menaiki kendaraan pribadi ketimbang memanfaatkan transportasi umum.
Pusat Ekonomi Tunggal dan Perlunya Kebijakan Pembatasan
Faktor pemicu lainnya adalah status Jakarta yang masih beroperasi sebagai pusat ekonomi tunggal.
Kondisi ini memaksa jutaan warga dari wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) berbondong-bondong melakukan mobilitas harian ke Jakarta, sehingga penumpukan kendaraan terus terpusat pada titik-titik yang sama.
Dikutip dari kanal YouTube Dari Suara, penanganan masalah lalu lintas tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan fisik semata.
"Makanya kalau pendekatan cuma nambah infrastruktur tanpa dibarengin kebijakan buat ngendaliin jumlah kendaraan pribadi, masalahnya bakal susah diselesaiin," bunyi marasi penjelasan dalam kanal tersebut.
Sebab itu, penataan sistem transportasi terpadu yang diimbangi dengan kebijakan pembatasan kendaraan pribadi secara tegas menjadi syarat agar kemacetan Jakarta tidak terus menjadi beban menahun di masa mendatang. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari