RADARTUBAN – Indonesia dikenal sebagai negara kaya sumber daya air dengan curah hujan tinggi.
Namun, jutaan warga di berbagai daerah masih harus berjuang mendapatkan akses air bersih yang aman dan layak konsumsi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, walau akses air minum layak secara nasional menyentuh 78 persen, terdapat sekitar 7,36 persen masyarakat yang sama sekali belum mendapat akses tersebut.
Masalah ini dikupas tuntas oleh kanal YouTube Dari Suara. Video tersebut menyoroti indikator kategori "layak" versi BPS yang sebatas mengukur jarak sumber air minimal 10 meter dari septic tank.
Parameter ini dinilai belum menjamin air bebas dari bakteri berbahaya maupun logam berat.
Baca Juga: Kekeringan di Tuban Merembet ke Sembilan Kecamatan, 18 Desa Alami Krisis Air Bersih
Korelasi Kualitas Air dan Risiko Stunting
Buruknya kualitas air berdampak langsung pada kesehatan publik. World Health Organization (WHO) mencatat sekitar 800 ribu kematian global tiap tahun akibat penyakit diare pemicu sanitasi buruk.
Di Indonesia, kondisi ini berkorelasi kuat dengan tingginya kasus stunting pada anak.
"Karena anak yang minum air gak layak itu resikonya stunting bisa sampai 5 kali lipat lebih besar," tegas narator video Dari Suara.
Pipa Tua dan Kebocoran Air Masif
Masalah pengelolaan air nasional kian kompleks akibat tingginya tingkat kehilangan air sebelum sampai ke konsumen.
Angka Non-Revenue Water (NRW) nasional tercatat mencapai 40 persen, melampaui batas toleransi pemerintah sebesar 25 persen.
Penyebab utamanya adalah kondisi jaringan pipa PDAM yang telah berumur puluhan tahun tanpa perawatan memadai, sehingga memicu kebocoran di banyak titik.
Kebocoran ini memaksa masyarakat mengambil air tanah secara berlebih, yang dampaknya memicu penurunan permukaan tanah di Jakarta sebesar 5 hingga 10 sentimeter per tahun.
Tercemarnya lingkungan oleh limbah domestik dan industri turut memburukkan kualitas air, hingga masyarakat terpaksa membeli air tangki swasta dengan biaya lebih mahal.
Ulasan tersebut menyimpulkan bahwa kunci penyelesaian krisis air bersih nasional bukan sekadar membuat sumber air baru, melainkan perbaikan menyeluruh pada sistem infrastruktur dan jaringan distribusi air. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari