RADARTUBAN – Ada jargon "Jasmerah" (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah), ada nilai mendasar pendidikan, hingga sindiran menohok soal fenomena "cari muka".
Pidato Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, di hadapan Presiden Prabowo Subianto mendadak viral di media sosial lantaran memuat pesan-pesan tegas mengenai karakter, sejarah, dan keteladanan.
Momen berkesan tersebut disampaikan Kiai Hasan dalam acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9).
Baca Juga: PLTS 100 GW Prabowo Tuai Kritik, Koalisi Sipil Soroti RUPTL dan Risiko Proyek Mangkrak
Pidatonya ramai diperbincangkan publik karena disampaikan dengan gaya santai dan jenaka, tetapi tetap sarat makna filosofis.
Salah satu petikan pidato yang paling mencuri perhatian adalah saat Kiai Hasan menyinggung fenomena sosial orang-orang yang sibuk mengejar sesuatu yang belum dimilikinya.
"Sekarang banyak orang yang cari muka. Orang tidak punya ijazah cari ijazah, orang tidak punya nama cari nama, orang tidak punya uang cari uang, orang tidak punya jabatan cari jabatan, orang tidak punya muka cari muka," ujarnya yang disambut tawa para hadirin.
Pernyataan tersebut disampaikan secara umum tanpa menyebut nama maupun menunjuk pihak tertentu.
Sejumlah pihak menilai sentilan tersebut sebagai humor cerdas nan segar yang disampaikan langsung di hadapan Presiden Prabowo beserta jajaran tamu undangan.
Beda Orientasi Pedagang dan Pendidik
Namun, kelakar tersebut bukan satu-satunya poin penting yang dibawa Kiai Hasan.
Ia menegaskan bahwa sejak awal berdiri, Gontor tetap konsisten memilih jalur pendidikan murni sebagai wadah membangun kualitas manusia dan bangsa.
Dalam pandangannya, dunia pendidikan memiliki orientasi yang bertolak belakang dengan dunia perdagangan.
Jika perdagangan berangkat dari prinsip have the best (memiliki yang terbaik), lalu do the best (melakukan yang terbaik), dan diakhiri be the best (menjadi yang terbaik), pendidikan justru harus dimulai dari pembentukan karakter manusia.
"Kalau pendidikan ini Be the best, do the best, have the best. Jadi orang baik, kerjakan yang baik, baru akan mendapatkan hasil yang baik," tegasnya.
Pesan tersebut lantas dikaitkan dengan perjalanan seabad Gontor. Kiai Hasan mengajak generasi muda untuk tidak berhenti pada aktivitas mengingat sejarah semata.
Menurutnya, rekam jejak masa lalu harus dijadikan pijakan kokoh untuk menciptakan peradaban baru.
"Tidak hanya jangan melupakan sejarah, tidak hanya berguru pada sejarah, tetapi kita membangun sejarah, membangun peradaban dari Gontor," lanjut Kiai Hasan.
Keteladanan Pimpinan dan Kesederhanaan
Di samping masalah filosofi pendidikan, Kiai Hasan menaruh perhatian besar pada pentingnya keteladanan seorang pimpinan.
Secara terbuka, ia bahkan membuka ruang bagi para santri untuk melontarkan kritik apabila mendapati pola hidup pimpinan pesantren justru lebih mewah dibandingkan santri-santrinya.
"Boleh dikritik, boleh didemo. Inilah Gontor," ungkapnya.
Bagi Pondok Modern Darussalam Gontor, prinsip kesederhanaan bukan sekadar slogan di atas kertas.
Nilai tersebut ditempatkan sebagai pilar utama pendidikan karakter, sehingga pimpinan dan seluruh santri dapat berjalan berdampingan dalam memegang teguh prinsip hidup yang diajarkan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari