IQ Rata-Rata Indonesia 89,96 Urutan 126 Dunia, Bivitri: Kebodohan Struktural, Bukan Lahir

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 15:10 WIB
Menanggapi viral skor IQ Indonesia, Psikolog menilai data tersebut tak representatif dan tidak bisa jadi ukuran kecerdasan bangsa.
Menanggapi viral skor IQ Indonesia, Psikolog menilai data tersebut tak representatif dan tidak bisa jadi ukuran kecerdasan bangsa.

RADARTUBAN – Posisi Indonesia tercatat berada di urutan ke-126 dari total 137 negara dalam daftar pemeringkatan kecerdasan intelektual global yang dirilis oleh lembaga International IQ Test.

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap 299.304 partisipan asal Tanah Air yang mengikuti pengujian sepanjang tahun 2025 lalu, rata-rata angka Intelligence Quotient (IQ) masyarakat Indonesia berada pada skor 89,96.

Perolehan angka statistik tersebut lantas memicu perhatian publik dan respons dari Pakar Hukum Tata Negara Bivitri Susanti.

Baca Juga: Ciri Orang Cerdas: Mengapa 3 Kebiasaan Santai Ini Malah Menunjukkan IQ Tinggi?

Ia menyoroti adanya persoalan kebodohan yang bersifat struktural di balik fenomena angka rata-rata yang tergolong rendah tersebut.

Kendati demikian, Bivitri menggarisbawahi bahwa skor dari instrumen pengujian tersebut tidak bisa diserap secara mentah-mentah untuk menilai inteligensi masyarakat Indonesia.

“Benar enggak sih orang Indonesia itu katanya bodoh-bodoh? Saya sih enggak pengin percaya itu. Walaupun bisa diperdebatkan nanti oleh para ahli pendidikan soal IQ,” ungkapnya dalam tayangan podcast berjudul Bodoh dan Miskin Bukan Nasib Sial, Tapi Masalah Struktural di kanal pribadinya.

Pengaruh Akses Pendidikan dan Problem Nutrisi

Bivitri menguraikan bahwa anak-anak yang tumbuh dan memproleh akses sekolah yang baik, ketersediaan bahan bacaan yang memadai, serta lingkungan yang kondusif secara otomatis akan lebih siap dan terlatih saat dihadapkan pada model soal pengujian kognitif.

Sebaliknya, peserta didik yang berada di daerah dengan keterbatasan fasilitas akan mengalami hambatan sejak awal.

Selain ketimpangan kualitas sarana pendidikan formal, ia juga menekankan krusialnya pemenuhan gizi seimbang pada masa tumbuh kembang anak.

Persoalan gizi buruk dan tengkes (stunting) yang masih dialami sebagian masyarakat Indonesia dinilai berkontribusi langsung terhadap optimalisasi fungsi otak dan kecerdasan anak di kemudian hari.

Oleh sebab itu, pemerintah diimbau untuk tidak sekadar melihat angka tersebut sebagai deretan data semata, melainkan memfokuskan perhatian pada pembenahan akar masalah sosial.

Langkah nyata yang perlu diambil mencakup pemerataan mutu sekolah di seluruh wilayah, penjaminan kualitas tenaga pendidik, serta percepatan penanganan problem gizi pada generasi penerus.

Tanpa adanya intervensi yang menyasar pada akar persoalan sistemis ini, ketimpangan kemampuan kognitif dan daya saing sumber daya manusia di Tanah Air dikhawatirkan akan terus terjadi di tengah persaingan global yang kian ketat. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
struktural pendidikan IQ Indonesia kebodohan