Viral Turis India Bersitegang di Pura Bali, Warga Jelaskan Aturan dan Tradisi Setempat

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 13:39 WIB
Momen perselisihan antara seorang wisatawan asal India dan warga lokal terkait perbedaan tata cara beribadah di area pura di Bali. (Tangkapan Layar Youtube DuniaScope)
Momen perselisihan antara seorang wisatawan asal India dan warga lokal terkait perbedaan tata cara beribadah di area pura di Bali. (Tangkapan Layar Youtube DuniaScope)

RADARTUBA - Video yang memperlihatkan perselisihan antara seorang wisatawan paruh baya asal India dan warga lokal di kawasan tempat suci Pura Bali mendadak jadi perbincangan hangat di media sosial. 

Pria tersebut bersikeras ingin melakukan ibadah dengan tata cara dan aturan sebagaimana di negaranya.  Lantaran menganggap ajaran agama Hindu di India dan Bali adalah sama persis tanpa perbedaan.

Meskipun pengelola pura dan warga setempat telah memberikan penjelasan secara persuasif bahwa terdapat tata tertib serta norma lokal yang harus dihormati di perairan dan tempat suci Bali, wisatawan tersebut tetap menolak untuk menyesuaikan diri.

Warga akhirnya meminta wisatawan itu untuk meninggalkan area pura demi menjaga ketertiban ibadah.

​"Anda harus paham, ini bukan wilayah Anda," ujar salah seorang warga lokal Bali saat mencoba memberi pemahaman kepada wisatawan tersebut.

Baca Juga: Asal Usul Beduk: Simbol Islam yang Berakar dari Tradisi Hindu-Buddha

Insiden tersebut membuka kembali ruang diskusi publik mengenai masih banyaknya masyarakat luar yang belum memahami bahwa tradisi Hindu Dharma di Bali dan Hindu di India memiliki perbedaan konsep serta akulturasi budaya yang sangat signifikan.

Dalam video analisis yang dirilis oleh DuniaScope, dijelaskan bahwa agama Hindu Dharma yang dianut oleh suku Bali merupakan hasil sinkretisme dan akulturasi budaya yang unik antara ajaran Siwa-Siddhanta dari India dengan kepercayaan lokal Nusantara.

Salah satu perbedaan paling mendasar terletak pada konsep ketuhanan. Umat Hindu Bali memegang teguh filosofi monoteisme dengan menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang disapa sebagai Sang Hyang Widhi Wasa atau Acintya.

Dimana Trimurti diposisikan sebagai manifestasi-Nya. Sementara itu, mayoritas tradisi Hindu di India umumnya lebih dominan menganut pola politeisme.

​"Masih banyak yang belum tahu bahwa Hindu di Bali dan India memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Umat Hindu Bali percaya pada satu-satunya Tuhan yang tidak Anda temukan di India, yang disebut Acintya atau Sang Hyang Widhi," terang narator dalam tayangan video edukasi DuniaScope.

Selain konsep monoteisme, perbedaan besar juga terlihat dari penetapan kalender dan perayaan hari besar keagamaan.

Jika di India perayaan terbesar berfokus pada festival Diwali atau Holi menggunakan kalender India kuno, umat Hindu Bali merayakan Hari Raya Nyepi, Galungan, Kuningan, hingga Pagerwesi berdasarkan perhitungan kalender Pawukon dan Saka.

Dari sekian banyak hari raya, kedua wilayah ini hanya memiliki dua kesamaan hari besar, yakni Siwaratri dan Saraswati.

​Sistem kemasyarakatan di Bali juga tergolong lebih Humanis dan fleksibel. Pembagian strata sosial di Bali mengacu pada konsep Catur Warna tanpa sistem subkasta yang kaku, serta telah dilarang oleh pemerintah setempat untuk memperlakukan warga berdasarkan kasta.

Baca Juga: Belum Memiliki Pura, Umat Hindu di Tuban Bisa Beribadah di Kantor Kemenag Atau ke Bojonegoro dan Lamongan

Hal ini berbeda dengan di India yang mengenal sistem kasta (Pancawarna) yang jauh lebih kompleks hingga mencakup ribuan subkasta, yang dalam beberapa kasus sosial masih menciptakan batasan interaksi ketat antar strata.

Perbedaan-perbedaan kultural dan teologis tersebut menegaskan pentingnya sikap saling menghormati dan toleransi bagi para wisatawan mancanegara saat berkunjung ke tempat-tempat suci di Bali, agar tidak memaksakan budaya luar di atas kearifan lokal yang telah lestari selama ratusan tahun.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
india wisatawan pura ibadah bali