Sempat Laris Manis Dipromosikan Lisa Blackpink, Mengapa Harga Boneka Labubu Kini Anjlok di Pasar?

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 15:03 WIB
Koleksi figur blind box Labubu yang menjadi barang buruan para penggemar. (pinterest.com)
Koleksi figur blind box Labubu yang menjadi barang buruan para penggemar. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Karakter boneka dengan telinga panjang, mata besar, dan barisan gigi tajam bernama Labubu pernah memicu kegilaan global.

Boneka yang diciptakan oleh desainer asal Hong Kong, Kasing Lung, pada tahun 2015 ini mendadak berubah dari mainan yang nyaris tidak dikenal menjadi salah satu produk koleksi paling dicari di seluruh dunia.

Namun, setelah mengalami lonjakan popularitas dan harga fantastis, fenomena Labubu kini mulai memasuki fase kejenuhan akibat perubahan strategi produksi dan hadirnya barang tiruan.

​Awal mula kesuksesan Labubu tidak lepas dari peran PopMart, perusahaan asal Beijing yang memegang lisensi penjualan karakter tersebut.

Baca Juga: Sutradara Paddington Paul King Resmi Sutradarai Live-Action Labubu Sony

Melalui sistem penjualan blind box (kotak misterius) serta penyebaran edisi terbatas atau Secret Edition dengan rasio kelangkaan 1 berbanding 72, PopMart berhasil menciptakan efek psikologis penasaran di kalangan konsumen.

Popularitas Labubu benar-benar meledak secara masif pada April 2024 ketika Lisa, anggota grup K-Pop kenamaan Blackpink, terlihat menggantungkan boneka tersebut di tas pribadinya.

Sejak saat itu, Labubu bertransformasi dari sekadar mainan koleksi menjadi simbol gaya hidup (gaya busana) dan tren budaya populer.

Unggahan unboxing di media sosial kian memperluas jangkauan pasarnya, memicu munculnya pasar reseller tempat boneka ini dijual kembali dengan harga berkali-kali lipat dari harga toko, bahkan satu unit edisi khusus pernah terlelang seharga miliaran rupiah di Beijing.

​Berdasarkan analisis dari kreator konten Daniel Fredrik dalam tayangan videonya, lonjakan permintaan yang ekstrem tersebut pada akhirnya justru menimbulkan masalah pasokan baru.

​"Semakin besar fenomena Labubu, semakin banyak pula masalah yang mulai muncul. Stok yang terbatas memicu antrean panjang dan kericuhan di berbagai toko, sementara para calo menggunakan bot otomatis untuk memborong stok online," ujar Daniel Fredrik dalam analisis videonya.

Merespons tekanan pasar dan maraknya praktik percaloan, PopMart mengambil keputusan besar dengan meningkatkan kapasitas produksi hingga puluhan kali lipat untuk membanjiri pasar dengan stok baru.

Langkah ini dilakukan untuk memenuhi permintaan sekaligus mengikis keuntungan para tengkulak. Namun, keputusan tersebut berdampak ganda terhadap eksklusivitas produk.

​"Daya tarik Labubu selama ini sebenarnya bukan hanya karena bentuknya, tetapi juga karena sulitnya mendapatkan produk tersebut. Ketika produksi ditingkatkan secara besar-besaran dan stok membanjiri pasar, rasa eksklusif itu perlahan ikut hilang. Harga di pasar sekunder pun mulai jatuh drastis, bahkan beberapa versi turun hingga di bawah harga resmi toko," lanjut Daniel.

Penurunan harga di pasar sekunder membuat para kolektor dan spekulan kehilangan alasan untuk terus berburu edisi langka.

Baca Juga: Boneka Labubu Edisi Sacai x Seventeen Terjual Rp500 Juta Lebih, Hasil Lelang Disumbangkan ke UNESCO

Kondisi ini kian diperparah oleh maraknya produk tiruan ilegal (dikenal sebagai La Fufbu) yang membanjiri pasar.

​Kendati gelembung spekulasi harganya mulai surut, kisah Labubu tetap menjadi catatan penting dalam sejarah industri kreatif global.

Fenomena ini membuktikan bagaimana kombinasi Fear of Missing Out (FOMO), pemasaran figur publik, dan strategi kelangkaan mampu mengubah kekayaan intelektual (IP) asal Tiongkok menjadi komoditas ekonomi bernilai tinggi di tingkat dunia. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
labubu Blind box blackpink lisa