RADARTUBAN - Ancaman perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut kini bukan lagi sekadar wacana teoritis bagi warga Pesisir Utara Jawa.
Di Desa Mayangan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, krisis lingkungan tersebut hadir secara nyata melalui fenomena abrasi parah dan banjir rob yang perlahan merampas lahan kehidupan masyarakat.
Luas daratan Desa Mayangan yang dulu didominasi oleh tambak ikan dan udang kini menyusut drastis.
Dari total wilayah yang ada, hampir 385 hektar lahan telah hilang ditelan abrasi laut, menyisakan hanya sekitar 102 hektar daratan yang masih bisa dihuni oleh warga.
Perubahan ekosistem ini memaksa sekitar 60 persen warga yang semula mengandalkan budidaya tambak beralih profesi menjadi nelayan tangkap.
Baca Juga: Roboh Total Akibat Banjir, Mendikdasmen Pastikan SD 9 Aceh Utara Dibangun Ulang oleh TNI AD
Tak hanya merusak sektor ekonomi, terjangan air laut juga merendam permukiman hingga membuat banyak warga terpaksa meninggikan bangunan rumah mereka atau bahkan meninggalkan tempat tinggal yang sudah tak layak huni.
Namun, masyarakat Desa Mayangan memilih untuk tidak tinggal diam di tengah keterpurukan tersebut.
Melalui kolaborasi antara perangkat desa, pemuda lokal, dan organisasi lingkungan Wanadri, dibentuklah Rumah Edukasi Mangrove serta kelompok pemuda yang dinamai "Si Putit" atau Siput Siaga Pesisir Utara.
Komunitas ini fokus pada aksi nyata pemulihan pesisir melalui penanaman, pemantauan, hingga penyulaman bibit mangrove yang mati.
Upaya pelestarian ini terbukti efektif dalam meredam dampak terjangan banjir rob.
Keberadaan benteng alami hutan mangrove mampu menahan limpasan air laut sehingga dampak luapan air ke permukiman warga jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Semenjak mangrove ini sudah ada, kalau kemarin-kemarin kan lagi mangrove-nya masih kecil-kecil, sampai pada lari disangka tsunami. Kalau sekarang enggak, jadi walaupun ada rob, paling sedikit," ungkap salah seorang warga lokal dalam dokumenter yang dirilis kanal YouTube National Geographic Indonesia.
Keberhasilan penanaman ini didukung oleh aksi pemantauan yang konsisten. Melalui kegiatan patroli dan sensus mangrove secara berkala, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) tanaman berhasil ditingkatkan dari 50 persen menjadi 60 hingga 70 persen.
"Bagi mereka, menanam mangrove bukan pekerjaan sekali selesai. Ia membutuhkan perawatan dan keterlibatan terus-menerus," ujar narator dalam dokumenter tersebut.
Baca Juga: Persoalan Banjir di Tuban karena Sungai di Hulu Tidak Dinormalisasi dan Alami Pendangkalan Tebal
Selain aksi penyelamatan lingkungan, warga juga dibekali berbagai keterampilan baru, mulai dari pemandu pariwisata, storytelling, hingga pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis potensi lokal.
Saat ini, warga telah memproduksi sedikitnya lima produk olahan unggulan, seperti abon ikan, kerupuk ikan, dodol mangrove, stik mangrove, dan keripik ikan asin.
Melalui kombinasi antara aksi konservasi hutan mangrove dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, Desa Mayangan membuktikan bahwa pemulihan wilayah pesisir bukan hanya soal mengembalikan keasrian alam, melainkan juga membangun kesadaran warga untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga desanya sendiri dari ancaman krisis iklim.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni