Bukan Kekurangan Potensi, Ini Dua Tantangan Indonesia Membangun Ekonomi Berbasis Inovasi

Sita Devi Alfiyah • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 08:42 WIB
Ahmad Aditya mengungkap dua tantangan Indonesia membangun ekonomi berbasis inovasi. (Tangkapan layar Youtube indrawannugroho)
Ahmad Aditya mengungkap dua tantangan Indonesia membangun ekonomi berbasis inovasi. (Tangkapan layar Youtube indrawannugroho)

RADARTUBAN – Indonesia memiliki potensi besar untuk bertransformasi dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis inovasi. 

Melimpahnya sumber daya alam, bonus demografi, serta agenda hilirisasi menjadi modal utama. Namun, realitanya transisi tersebut tidak mudah dan menghadapi berbagai hambatan mendasar.

Hambatan utama transformasi ekonomi ini dibahas dalam sebuah diskusi antara Dr. Indrawan Nugroho dan Ahmad Aditya, Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Pendidikan, Riset, Inovasi, dan Hilirisasi.

Baca Juga: Houthi Semakin Kuat, Arab Saudi Hadapi Ancaman Ekonomi hingga Keamanan

Dikutip dari kanal YouTube @IndrawanNugroho, Ahmad Aditya menyoroti tantangan terbesar yang membuat Indonesia masih kesulitan dalam menciptakan produk dan ekonomi berbasis inovasi secara berkelanjutan.

"Kalau saya lihat tantangannya ada dua: yang pertama adalah ekosistem inovasinya, yang kedua adalah mindset dari community-nya yang kemudian harus kita introduce," ujar Ahmad Aditya.

Ahmad Aditya menjelaskan bahwa ekosistem inovasi memerlukan kolaborasi erat antar-stakeholder, khususnya antara perguruan tinggi sebagai penyedia riset dan industri yang mengintegrasikan hasil riset tersebut ke pasar. 

Ia mencontohkan bagaimana kampus-kampus di luar negeri, seperti MIT, memiliki ekosistem yang terhubung langsung dengan industri sehingga menumbuhkan kepercayaan diri mahasiswa untuk menciptakan startup dan produk inovatif.

Selain masalah ekosistem, tantangan mindset juga menjadi kendala nyata.

Masyarakat Indonesia dinilai masih kurang percaya diri terhadap kualitas produk buatan dalam negeri, terutama di sektor teknologi dan elektronik, sehingga cenderung lebih memilih produk luar negeri.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan langkah bertahap. Di antaranya adalah memulai dari pengembangan teknologi sederhana (low technology) yang langsung dibutuhkan masyarakat guna membangun kepercayaan publik, serta dibutuhkannya peran aktif pemerintah dalam melakukan intervensi sebagai pembeli awal (offtaker) produk lokal.

Pembahasan juga menyinggung sejarah keberhasilan Indonesia di masa lalu, seperti pengembangan industri kedirgantaraan N235 yang diinisiasi pemerintah dengan memfasilitasi penyiapan talenta, alih teknologi, hingga infrastruktur.

Pengalaman tersebut membuktikan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk membangun ekosistem inovasi, selama ada komitmen kuat dan strategi pengelolaan talenta manusia yang berkelanjutan.

Di akhir diskusi, ditegaskan pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi utama.

Indonesia dinilai beruntung karena memiliki kombinasi kekayaan alam melimpah serta 180 juta talenta muda, yang jika dioptimalkan melalui investasi SDM jangka panjang, akan mampu membawa Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi berbasis inovasi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
inovasi ekonomi potensi Indonesia