Jakarta Disebut Bakal Tenggelam pada 2050, Benarkah? Ini Penjelasannya

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 13:05 WIB
Foto Ilustrasi Jakarta tenggelam di tahun 2050 mendatang. (youtube.com/ Dari Suara)
Foto Ilustrasi Jakarta tenggelam di tahun 2050 mendatang. (youtube.com/ Dari Suara)

RADARTUBAN - Kabar mengenai Jakarta yang diprediksi tenggelam pada 2050 kembali memunculkan kekhawatiran. 

Namun, ancaman tersebut tidak semata-mata disebabkan kenaikan permukaan air laut, melainkan juga kondisi daratan Jakarta yang terus mengalami penurunan.

Dilansir dari video YouTube kanal Dari Suara, penurunan muka tanah menjadi salah satu persoalan serius yang dihadapi Jakarta. 

Baca Juga: Luas Jalan Hanya 10 Persen, Ini Penyebab Utama Kemacetan Jakarta Tak Kunjung Usai

Aktivitas Manusia Jadi Pemicu

Fenomena tersebut berkaitan erat dengan aktivitas manusia, terutama penggunaan air tanah secara masif.

Dalam video tersebut dijelaskan, penyedotan air tanah secara terus-menerus membuat lapisan tanah kehilangan kandungan air. 

Kondisi itu dianalogikan seperti spons basah yang airnya terus diperas sehingga pori-porinya kehilangan penyangga dan tanah perlahan mengalami penurunan.

Dampaknya kini terlihat pada kondisi sejumlah wilayah Jakarta. 

Lebih dari 40 persen wilayah ibu kota disebut sudah berada di bawah permukaan laut, terutama kawasan Jakarta bagian utara.

"Data soal seberapa cepat Jakarta ambles emang beda-beda. Tergantung wilayah dan periode pengukurannya," bunyi narasi dalam video tersebut.

"Tapi kalau kita lihat gambaran besarnya, lebih dari 40 persen wilayah Jakarta sekarang sudah berada di bawah permukaan laut, terutama di bagian utara," lanjut narasi tersebut.

Penyedotan Air Tanah Perparah Penurunan Daratan

Sejumlah kawasan seperti Muara Baru dan Cilincing disebut mengalami penurunan permukaan tanah lebih dari empat meter dalam beberapa dekade terakhir.

Kondisi tersebut semakin kompleks karena wilayah pesisir Jakarta banyak menopang bangunan dengan beban berat di atas tanah lunak. 

Selain itu, ruang terbuka hijau yang semakin terbatas akibat permukaan tanah tertutup beton membuat air hujan lebih sulit meresap ke dalam tanah.

Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat ancaman banjir, termasuk banjir rob, semakin sulit diabaikan. 

Karena itu, persoalan Jakarta bukan hanya berkaitan dengan naiknya permukaan air laut, tetapi juga kemampuan kota mempertahankan kondisi daratannya.

Perluas Air Perpipaan hingga Bangun Tanggul Laut

Pemerintah Jakarta disebut telah mengambil sejumlah langkah untuk menghadapi persoalan tersebut. 

Salah satunya dengan memperluas cakupan layanan air perpipaan PAM Jaya agar masyarakat secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.

Upaya tersebut turut didukung tambahan pasokan air dari Waduk Karian dan proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur.

"Di pertengahan 2026 cakupan perpipaan ini sudah tembus sekitar 82 persen. Berarti dalam beberapa tahun angkanya itu naik 14 persen dan targetnya sekarang mungkin 100 persen cakupan di 2029," ungkap narator dalam video.

Selain mengurangi penggunaan air tanah, pemerintah juga terus mendorong pembangunan tanggul laut raksasa. 

Infrastruktur tersebut ditujukan untuk melindungi kawasan daratan dari ancaman banjir rob.

Dengan berbagai upaya tersebut, prediksi Jakarta tenggelam pada 2050 lebih tepat dipahami sebagai skenario ancaman apabila persoalan penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut tidak ditangani secara serius. 

Pengendalian penggunaan air tanah menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko tersebut. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
penggunaan air tanah tenggelam jakarta ibu kota