RADARTUBAN - Greenpeace Indonesia menyebut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang 2026 telah meluas hingga ke tujuh negara di kawasan Asia Tenggara.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Belgis Habiba mengatakan, pemantauan organisasinya menunjukkan asap dari wilayah terdampak karhutla bergerak melampaui sumber kebakaran.
Negara yang disebut terdampak pergerakan asap tersebut meliputi Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Kamboja.
Baca Juga: Karhutla Kepung Hutan Kalimantan, Orang Utan Kehilangan Habitat hingga Terancam Kekurangan Makanan
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Koalisi Indonesia Tanpa Polusi, Kamis (1/10).
Dalam kesempatan tersebut, koalisi menyoroti meluasnya karhutla sepanjang tahun ini yang tidak hanya terjadi di Sumatra dan Kalimantan, tetapi juga menjangkau berbagai wilayah lain di Indonesia.
“Pemantauan kami juga membuktikan pergerakan asap beracun ini telah melampaui wilayah titik sumber asap, bahkan menunjukkan pergerakan lintas batas menuju Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Vietnam dan Kamboja," ujar Belgis.
"Jutaan warga kini dipaksa menghirup udara beracun, dan pemerintah tidak bisa lagi melihat ini hanya sebagai masalah di hulu saja," lanjutnya.
Ribuan Titik Asap Terdeteksi, Kasus ISPA Meningkat
Belgis menyebut karhutla tahun ini menjadi salah satu sumber polusi udara yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pemantauan Greenpeace selama Agustus hingga 20 September 2026, teridentifikasi 3.213 titik sumber asap di Kalimantan yang sebagian besar berada di lanskap gambut.
Sementara itu, terdapat 894 titik sumber asap yang terpantau di Sumatra.
Dampak polusi akibat karhutla juga menjadi perhatian Koalisi Indonesia Tanpa Polusi.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang disampaikan dalam konferensi pers tersebut, tercatat 113.336 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota terdampak.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 26.545 kasus dialami anak berusia di bawah lima tahun atau balita.
Kelompok usia tersebut menjadi salah satu kelompok rentan yang perlu mendapat perlindungan dari paparan polusi udara.
Sebaran karhutla di Indonesia juga disebut semakin luas.
Koalisi Indonesia Tanpa Polusi mencatat kejadian kebakaran tidak lagi hanya terpusat di Sumatra dan Kalimantan.
Tetapi juga meluas secara sporadis ke Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Tanah Papua.
Data Sistem Pemantauan Karhutla SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan luas areal karhutla di Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare.
Luasan tersebut meningkat 69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Desak Pemerintah Perkuat Pencegahan Karhutla
Melihat meluasnya kebakaran dan dampak polusi udara, Koalisi Indonesia Tanpa Polusi meminta pemerintah mengubah pola penanganan karhutla.
Upaya pengendalian dinilai perlu lebih menitikberatkan pada pencegahan, bukan hanya pemadaman setelah kebakaran meluas.
Pihak mereka juga mendorong pemerintah membuka data perizinan konsesi secara transparan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat pengawasan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, pemerintah didorong menghentikan kerusakan ekosistem gambut dan menindak pihak-pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.
Perlindungan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak polusi asap, terutama kelompok rentan, juga menjadi salah satu tuntutan koalisi.
Koalisi menilai penanganan karhutla perlu dilakukan secara menyeluruh karena dampaknya tidak berhenti di wilayah kebakaran.
Pergerakan asap lintas batas dan besarnya jumlah warga yang mengalami gangguan pernapasan menjadi alasan agar upaya pencegahan serta pengendalian diperkuat. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari