Boikot Bali Diserukan, Arya Wedakarna: Silakan, Kami Sedang Seleksi Turis Berkualitas

Hardiyati Budi Anggraeni • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 15:30 WIB
AWK menanggapi seruan boikot Bali. (Radar Buleleng)
AWK menanggapi seruan boikot Bali. (Radar Buleleng)

RADARTUBAN - Seruan boikot Bali kembali ramai dibicarakan di media sosial. Anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna (AWK), justru mempersilakan wisatawan yang memilih tidak berlibur ke Pulau Dewata.

Menurut AWK, keputusan wisatawan untuk mengalihkan tujuan liburan ke daerah lain tidak perlu dipersoalkan. Dia bahkan menilai kondisi tersebut dapat memberikan keuntungan bagi destinasi wisata lainnya.

"Kalau misalkan ada yang bilang boikot Bali, boikot Bali, saya melihat dari point of view-nya yang pertama, kalau ada boikot Bali ya tentu akan menguntungkan bagi daerah lain. Jadi ya silakan," ujar AWK, seperti dilansir suaragarut.id.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika pariwisata Bali tengah menjadi sorotan setelah muncul sejumlah perdebatan mengenai pengalaman wisatawan di Pulau Dewata.

Baca Juga: Kilas Balik Final SEA Games 1991: Indonesia Bungkam Thailand Lewat Drama Penalti

Bali Disebut Sedang Berbenah

AWK mengatakan Bali saat ini juga tengah melakukan pembenahan. Dia menyebut masih ada sejumlah persoalan di Bali yang perlu diselesaikan.

"Kebetulan juga Bali lagi mau bersih-bersih, kebetulan Bali juga masih banyak masalah," lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, AWK turut menyinggung konsep wisatawan berkualitas. Menurut dia, Bali tidak semata-mata membutuhkan jumlah wisatawan yang besar, tetapi juga wisatawan dengan kemampuan belanja tinggi.

"Jadi sebenarnya kita sekarang sedang menyeleksi turis yang berkualitas, turis yang spending-nya banyak, turis yang memiliki modal banyak. Kita juga butuh turis yang dolarnya banyak," katanya.

AWK menilai jumlah kunjungan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pariwisata. Dia lebih memilih jumlah wisatawan yang tidak terlalu banyak, tetapi memiliki daya beli tinggi.

"Karena kita lebih baik terima turis yang nggak banyak tapi berkualitas," tegasnya.

Minta Warga Tak Terpancing Seruan Boikot

Meski mempersilakan wisatawan memilih daerah lain, AWK meminta masyarakat Bali tidak terpancing dengan seruan boikot yang beredar di media sosial.

Dia mengatakan wisatawan yang ingin datang ke Bali tetap dipersilakan, dengan catatan menghargai Pulau Dewata dan masyarakat setempat.

"Yang penting masyarakat, netizen tidak usah terpancing, jalankan saja. Kalau mau datang ke Bali, ayo dong hargai pulau kami. Kalau misalkan nggak mau ke Bali juga nggak apa-apa," ujarnya.

Pernyataan mengenai seleksi wisatawan tersebut kemudian memicu perdebatan di media sosial X. Sejumlah pengguna membahas kontribusi wisatawan domestik, daya beli turis, hingga kualitas pelayanan pariwisata di Bali.

Baca Juga: Mengapa Orang Bisa Terjerat Pinjol? Ini Alasan di Balik Lingkaran Utangnya

Akun @bousantanna mempertanyakan kembali peran wisatawan domestik ketika akses wisatawan mancanegara terhambat selama pandemi Covid-19.

"Dia lupa apa ya pas kemarin covid, pas border dari luar negeri ditutup, siapa yg hidupin pariwisata bali kalo bukan turis lokal? Sekarang enteng bgt ngomong ngeremehin turis lokal," tulisnya.

Sementara itu, @Leon34440722577 menyoroti dugaan perbedaan perlakuan terhadap wisatawan asal Australia dan Jakarta.

"Kawan gw orang Australia, di negaranya cuma kurir nganterin paket, tapi di Bali dianggap raja, tapi temen gw orang Jakarta yg duitnya M M-an ke Bali malah dianggap orang susah," ujarnya.

Akun @erniarrow memilih melihat polemik tersebut dari sisi kontribusi ekonomi wisatawan. Dia juga menyebut pengembangan destinasi wisata di daerah lain dapat memberikan manfaat bagi perekonomian masyarakat.

"Tidak perlu berdebat, lebih baik melaksanakan apa yang diminta dan melihat apakah benar wisatawan lokal memiliki kontribusi pada ekonomi Bali atau tidak. Menggalakkan wisata ke berbagai daerah lain justru baik untuk ekonomi masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja ini," tulisnya.

Kritik juga disampaikan akun @aminociy. Dia menilai respons AWK justru membuat perdebatan semakin panjang.

"Buset masih aja sombong nih orang, bukannya minta maaf malah makin sombong," tulisnya.

Akun @NaufallyS turut mempertanyakan gagasan mengenai seleksi wisatawan berkualitas. Dia mengaitkannya dengan kondisi pariwisata Bali ketika wisatawan mancanegara tidak dapat masuk akibat pembatasan selama pandemi.

"Seleksi turis berkualitas? Lah anggota pemerintahnya aja ga berkualitas begini ko ngarepin turis yang berkualitas? Heran banget ada masalah bukannya nyari jalan keluar, malah ngehina-hina. Padahal pas covid, wisatawan yang ke Bali orang Indo loh," tulisnya.

Polemik Berawal dari Pengalaman Wisatawan

Seruan boikot Bali mencuat setelah sejumlah pengalaman wisatawan dan figur publik ketika berlibur di Pulau Dewata menjadi perbincangan di media sosial.

Billy Syahputra dan Ria Ricis sebelumnya menjadi sorotan setelah menyampaikan pengalaman yang mereka anggap kurang menyenangkan terkait pelayanan selama berada di Bali. Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai kualitas pelayanan dan perlakuan terhadap wisatawan domestik maupun mancanegara.

Polemik selanjutnya melebar ke pembahasan mengenai bagaimana wisatawan diperlakukan, kontribusi turis domestik terhadap ekonomi Bali, hingga konsep pariwisata berkualitas.

Dalam situasi tersebut, pernyataan AWK mengenai pembenahan Bali, pilihan wisatawan untuk tidak datang, serta kebutuhan terhadap wisatawan dengan daya belanja tinggi kembali menjadi perhatian publik. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
boikot bali AWK Arya Wedakarna wisatawan pulau dewata