RADARTUBAN - Pengakhiran misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) oleh Pasukan Bela Diri Jepang atau Japan Self-Defense Forces (JSDF) di Kalimantan menjadi sorotan publik.
Keputusan tersebut memicu perdebatan di media sosial karena kebakaran dan dampak kabut asap masih menjadi perhatian di kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Pertahanan Jepang pada 29 September 2026, misi bantuan internasional itu diakhiri setelah pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa operasi pemadaman oleh pasukan Jepang telah membantu mencegah meluasnya kebakaran dan penanganan selanjutnya dapat dilakukan oleh Indonesia.
Keputusan penghentian misi diambil setelah konsultasi antara kedua negara. Jepang kemudian memerintahkan pasukannya menyelesaikan operasi pemadaman yang telah dijadwalkan sebelum kembali ke negaranya.
Selama bertugas, tiga helikopter angkut CH-47 milik Pasukan Bela Diri Darat Jepang menjalankan lebih dari 40 operasi pemadaman udara hingga 28 September.
Ketiga helikopter tersebut menjatuhkan sekitar 220 ton air untuk membantu mengendalikan kebakaran di Kalimantan.
Baca Juga: Malaysia Tawarkan Bantuan Padamkan Karhutla Indonesia Namun Tak Direspon: Kami Ucapkan Terima Kasih
Pemulangan Pasukan Jepang Jadi Perbincangan
Pengakhiran misi tersebut mendapat perhatian warganet yang mempertanyakan alasan bantuan Jepang tidak dilanjutkan ketika karhutla masih menjadi persoalan.
Salah satu kritik disampaikan akun X @daddyyuki. Akun tersebut mempertanyakan keputusan pemerintah Indonesia yang disebut telah menyatakan mampu menangani sisa kebakaran secara mandiri.
“Kenapa Pemerintah Indonesia menghentikan bantuan dari Jepang untuk memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan? Setelah saya check ke website Department Pertahanan Jepang ternyata, bantuan dari Jepang yang baru setengah jalan dipaksa dihentikan atas alasan, Indonesia sanggup untuk memadamkan sisanya,” tulis akun tersebut, dikutip Selasa (13/10).
Akun itu juga mempertanyakan apakah kemampuan penanganan mandiri Indonesia cukup untuk mengatasi kebakaran yang masih berlangsung.
Pernyataan tersebut merupakan pendapat warganet, bukan kesimpulan yang telah dibuktikan.
Kritik serupa disampaikan akun @FaiNomady. Akun tersebut menyoroti keputusan pengakhiran bantuan Jepang dan mengaitkannya dengan pemberitaan mengenai tawaran bantuan dari Malaysia.
Sementara itu, akun @RA_leather turut menyuarakan kekhawatiran mengenai penanganan karhutla dan dampak kabut asap yang meluas.
Meski memicu perdebatan, alasan resmi penghentian misi yang tercantum dalam dokumen Jepang merujuk pada hasil konsultasi bilateral dan penilaian pemerintah Indonesia bahwa penanganan selanjutnya dapat dilakukan secara mandiri.
Baca Juga: Publik Figur Mancanegara Protes Soal Asap Karhutla, Akui Batuk dan Kesulitan Bernapas
Jepang Kerahkan Tiga Helikopter CH-47
Dokumen Kementerian Pertahanan Jepang menjelaskan, keputusan pengerahan bantuan internasional untuk menangani kebakaran hutan di Indonesia ditetapkan pada 28 Agustus 2026.
Sementara itu, operasi pemadaman menggunakan helikopter CH-47 di Kalimantan dimulai pada 16 September 2026.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari kerja sama kemanusiaan kedua negara untuk membantu menekan dampak kebakaran, terutama di wilayah yang sulit dijangkau melalui operasi darat.
Dalam keterangannya pada 29 September, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan telah memerintahkan Komandan Komando Operasi Gabungan JSDF untuk mengakhiri kegiatan bantuan setelah berkonsultasi dengan pemerintah Indonesia.
Jepang juga menyebut pemerintah Indonesia telah menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan. Setelah operasi yang dijadwalkan selesai, pasukan dan peralatan disiapkan untuk kembali ke Jepang.
Kementerian Pertahanan RI sebelumnya turut mengapresiasi kontribusi personel Jepang. Pada 30 September 2026, pemerintah Indonesia memberikan tanda kehormatan Satyalancana Dharma Samudera kepada personel Jepang yang terlibat dalam penanganan karhutla.
Nana Mirdad Soroti Penanganan Karhutla
Di tengah perbincangan mengenai bantuan internasional, artis sekaligus pegiat lingkungan Nana Mirdad juga menyampaikan keprihatinan terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Melalui unggahannya di Threads, Nana mengungkapkan kekecewaan karena kebakaran yang menurutnya telah berlangsung berbulan-bulan belum mendapatkan penanganan yang dinilai memadai.
“Sudah berbulan-bulan begini, tapi masih belum ada penanganan berarti,” ujarnya.
Nana juga menyoroti dampak kabut asap yang dirasakan negara-negara tetangga. Ia menyampaikan kesedihan dan kemarahan atas situasi yang dianggapnya membutuhkan perhatian lebih serius.
“Kita butuh berdoa agar keajaiban terjadi di Kalimantan,” tegasnya.
Pernyataan Nana tersebut menambah sorotan publik terhadap penanganan karhutla.
Namun, penilaian mengenai efektivitas upaya pemadaman dan kebutuhan bantuan tambahan perlu merujuk pada perkembangan kondisi kebakaran, data resmi di lapangan, serta penjelasan pemerintah terkait.
Pengakhiran misi Jepang pada akhir September menjadi bagian dari perkembangan penanganan karhutla di Kalimantan.
Di tengah kritik yang muncul, penjelasan mengenai hasil operasi, kondisi kebakaran terkini, dan langkah lanjutan pemerintah menjadi penting agar publik memperoleh gambaran yang utuh. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni