Views Konten Karhutla Jadi Sorotan, Wamen Komdigi Tanggapi Isu Shadowban Instagram

Hardiyati Budi Anggraeni • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:22 WIB
Tim gabungan tengah berusaha memadamkan karhutla. (Dok. BNPB)
Tim gabungan tengah berusaha memadamkan karhutla. (Dok. BNPB)

RADARTUBAN – Keluhan mengenai turunnya jangkauan unggahan bertema kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Instagram memunculkan dugaan pembatasan konten atau shadowban.

Menanggapi isu tersebut, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Angga Raka Prabowo menegaskan tidak ada pembatasan konten oleh pemerintah.

Angga menyatakan masyarakat tetap dapat menyampaikan kritik maupun masukan, termasuk mengenai penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatra.

Dia juga mengingatkan bahwa setiap platform media sosial memiliki aturan tersendiri dalam mengelola unggahan penggunanya.

Baca Juga: Komdigi Umumkan Pemenang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, 538 Desa Bakal Dapat Akses 4G

Menurut dia, penilaian terhadap suatu unggahan berkaitan dengan pedoman komunitas yang diterapkan masing-masing platform. Karena itu, masyarakat perlu memahami mekanisme tersebut sebelum menyimpulkan adanya pembatasan.

“Yang jelas kita nggak ada, kita, kita semua terbuka terhadap kritik, kita pun terbuka terhadap ataupun masukan yang ada,” kata Angga dikutip dari okezone news. 

Penurunan Jangkauan Picu Dugaan Shadowban

Perbincangan mengenai dugaan pembatasan konten bermula dari keluhan pengguna Instagram yang merasa jangkauan unggahan tentang karhutla menurun. Salah satu yang menyoroti kondisi tersebut adalah influencer Tasya Farasya.

Tasya mengungkapkan jumlah penonton Instagram Story miliknya merosot setelah ia membahas persoalan kebakaran hutan dan lahan. Padahal, menurut pengalamannya, unggahan Story biasanya mampu menjangkau lebih dari satu juta penonton.

Setelah mengangkat isu karhutla, jumlah penonton tersebut disebut turun hingga sekitar 85 ribu views. Perubahan itu kemudian memunculkan dugaan bahwa akun Tasya mengalami shadowban.

Istilah shadowban merujuk pada kondisi ketika visibilitas atau jangkauan konten diduga dikurangi tanpa pemberitahuan yang jelas kepada pemilik akun.

Namun, penurunan jumlah penonton tidak serta-merta membuktikan adanya pembatasan, apalagi memastikan penyebabnya berkaitan dengan topik yang diunggah.

Masyarakat Diminta Memastikan Kebenaran Informasi

Di tengah ramainya pembahasan tersebut, Angga meminta masyarakat tidak terburu-buru mempercayai informasi yang beredar di media sosial.

Dia menekankan pentingnya memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya lebih luas.

Baca Juga: Marak Akun Judi Online Membanjiri Kolom Komentar Instagram, Begini Respons Komdigi

Angga juga mengapresiasi publikasi informasi yang akurat mengenai kondisi di lapangan. Menurut dia, laporan masyarakat dapat membantu pemerintah merespons situasi bencana dengan lebih cepat.

“Terima kasih kalau berita itu benar, artinya itu membantu juga kepada pemerintah untuk bisa aksi lebih cepat terhadap penanggulangan bencana dan segala macam-macamnya,” ujarnya.

Hingga pernyataan tersebut disampaikan, keluhan mengenai penurunan jangkauan konten dan bantahan pemerintah masih perlu dibedakan dari bukti teknis mengenai penyebab perubahan jangkauan di Instagram.

Penentuan ada atau tidaknya pembatasan pada akun tertentu memerlukan informasi lebih lanjut dari platform terkait. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
shadowban pembatasan konten komdigi karhutla