RADARTUBAN - Rencana untuk mendatangkan 105 ribu unit kendaraan operasional bagi Koperasi Desa Merah Putih saat ini sedang menjadi perdebatan di ruang publik.
Situasi tersebut menimbulkan dua sudut pandang yang kontras, di mana manajemen PT Agrinas Pangan Nusantara meyakini bahwa langkah impor tersebut mampu menciptakan penghematan anggaran hingga puluhan triliun rupiah.
Sedangkan para pelaku industri manufaktur justru khawatir kebijakan tersebut akan memberikan tekanan negatif bagi produsen otomotif di dalam negeri.
Alasan Impor Kendaraan
Joao Angelo De Sousa Mota selaku Pimpinan tertinggi Agrinas, menjelaskan bahwa keputusan impor pickup dari India tersebut diambil setelah upaya kesepakatan dengan pabrikan lokal tidak membuahkan hasil.
Terutama mengenai kecocokan harga serta kemampuan memenuhi volume produksi yang diminta.
Rencana besarnya adalah mendatangkan total 105 ribu unit kendaraan, yang terbagi atas 35 ribu unit kendaraan tipe pikap penggerak empat roda dari pabrikan Mahindra & Mahindra, dan 70 ribu unit dari Tata Motors yang mencakup kombinasi pikap dan truk beroda enam.
Menurut Joao, melalui pengadaan perlengkapan transportasi tersebut, perusahaan mampu menekan biaya operasional sebesar 46,5 triliun rupiah.
Upaya Produsen Lokal
Joao mengungkapkan bahwa pihaknya sebenarnya telah memberikan kesempatan kepada sejumlah produsen otomotif besar di tanah air, mulai dari grup Astra, Isuzu, Mitsubishi, hingga Hino, untuk mengikuti tahap seleksi dan tawar-menawar.
Namun, pertemuan tersebut menunjukkan keterbatasan kapasitas produksi dari para pemain lokal.
• Isuzu dilaporkan hanya sanggup menyediakan 900 unit.
• Toyota melalui lini Hilux hanya bisa memasok sekitar 800 unit pada rentang waktu April hingga Mei 2026.
• Mitsubishi L300 disebut hanya memiliki kemampuan produksi sekitar 750 unit setiap bulannya.
• Hino yang awalnya hanya menawarkan 120 unit per bulan, baru bisa meningkatkan komitmennya menjadi 10 ribu unit setelah melakukan koordinasi dengan kantor pusat mereka di Jepang.
Secara akumulasi, produsen di dalam negeri hanya mampu menyanggupi pemenuhan sekitar 45 ribu unit saja, dengan kontribusi terbesar datang dari Mitsubishi Fuso, Foton Aumark, dan Hino.
Faktor Penentu Impor
Faktor ketidakmampuan memenuhi target volume serta persoalan nilai kontrak tersebut yang menjadi alasan utama mengapa opsi impor akhirnya dipilih.
Joao menekankan bahwa seharusnya pembelian dalam skala masif mendapatkan perlakuan harga yang lebih kompetitif dan ekonomis agar sesuai dengan pagu anggaran yang telah ditetapkan, namun para produsen lokal dinilai tetap menetapkan harga satuan tanpa skema potongan harga grosir yang memadai.
Selain masalah biaya dan jumlah, Agrinas berdalih bahwa saat ini tidak ada kendaraan pikap kabin tunggal berpenggerak empat roda yang diproduksi di dalam negeri yang sesuai dengan spesifikasi kebutuhan program tersebut.
Kendaraan ini nantinya akan menjadi tulang punggung operasional Koperasi Desa Merah Putih. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni