Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Eka Juni Lutfiana, Point Guard Muda yang Temukan Jati Diri di Basket

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 26 April 2026 | 16:41 WIB
Eka Juni Lutfiana. (EKA JUNI LUTFIANA DEWI UNTUK RADAR TUBAN)
Eka Juni Lutfiana. (EKA JUNI LUTFIANA DEWI UNTUK RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Bagi sebagian orang, lapangan basket hanyalah arena pertandingan. Namun bagi Eka Juni Lutfiana Dewi, setiap jengkal lantai basket adalah ruang pembuktian bagi dirinya.

Ana—sapaan akrab Eka Juni Lutfiana Dewi—membuktikan bahwa basket bukan sekadar hobi mencari keringat, melainkan juga sebagai medium untuk menemukan ketenangan dan jati diri di tengah hiruk-pikuk masa remaja.

Dara cantik asal Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding itu memulai perjalanannya di dunia basket sejak duduk di bangku kelas 7 SMP.

Padahal, kala itu dia lebih akrab dengan cabang olahraga voli dan atletik. Ketertarikan mencoba tantangan baru membawanya jatuh cinta pada olahraga bola keranjang.

Baca Juga: Profil Dr. Sulistyani Eka Lestari, S.H., M.H Perjuangkan Emansipasi sebagai Rektor tanpa Tercerabut dari Nilai-Nilai Keluarga

‘’Lapangan basket adalah tempat di mana aku merasa paling bebas dan paling menjadi diriku sendiri," ungkap remaja berusia 17 tahun tersebut.

Di timnya, siswi kelas XI SMKN 1 Tuban itu memegang peran krusial sebagai point guard (PG). Posisi yang kerap dijuluki sebagai jenderal lapangan ini menuntut tanggung jawab besar. Sebagai pemegang bola pertama, Ana bertugas mengatur ritme permainan—kapan harus melakukan serangan cepat dan kapan harus memperlambat tempo.

Baginya, visi bermain adalah kunci. Dia harus mampu melihat celah di pertahanan lawan bahkan sebelum rekan setimnya menyadari.

Menurutnya, memberikan assist yang membelah pertahanan lawan rasanya jauh lebih memuaskan daripada sekadar mencetak angka sendiri. Peran ini pula yang menempanya menjadi pribadi yang tetap tenang saat situasi di lapangan sedang memanas.

Namun, dedikasi di dunia basket bukan tanpa hambatan. Gadis 17 tahun itu mengakui, tantangan fisik dan pemulihan tubuh menjadi kendala utama.

Intensitas latihan yang tinggi tak jarang menguras energi hingga memengaruhi stabilitas hormon dan pola istirahat. Jadwal latihan yang kerap hingga larut malam membuat kualitas tidurnya terganggu karena tubuh yang masih dalam kondisi terjaga pascaolahraga keras.

Meski begitu, Ana tak gentar. Dia lebih memilih lincah bergerak di lapangan daripada terjebak dalam hobi yang statis. Baginya, kunci untuk tetap unggul di lapangan bagi seorang perempuan adalah konsistensi dan manajemen waktu.

Menurutnya, skill hebat tidak akan berguna tanpa ketahanan fisik yang mumpuni.
‘’Intinya, siapa yang paling komitmen buat latihan rutin dan disiplin mengatur waktunya, dia pasti bisa unggul di lapangan," tegasnya. 

Melalui basket, cewek berzodiak Cancer itu mampu menunjukkan bahwa ketangguhan tidak hanya dibangun lewat otot, tetapi juga lewat kedisiplinan dan kecerdasan dalam mengambil keputusan di bawah tekanan. (saf/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#SMKN 1 Tuban #basket #olahraga