Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jerlyn, Siswi SMKN 1 Tuban yang Gigih Lestarikan Tari Tradisional

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 1 Mei 2026 | 15:17 WIB
Jerlyn Abella Octa Priyaningtyas. (JERLYN ABELLA OCTA PRIYANINGTYAS UNTUK RADAR TUBAN)
Jerlyn Abella Octa Priyaningtyas. (JERLYN ABELLA OCTA PRIYANINGTYAS UNTUK RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Di ttengah derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai tren budaya modern ke tanah air, Jerlyn Abella Octa Priyaningtyas membuktikan bahwa kecintaan terhadap akar budaya bangsa bukanlah sesuatu yang kuno, melainkan sebagai identitas yang harus dijaga dengan penuh kebanggaan.

Gadis berusia 18 tahun ini telah menjalin kedekatan dengan dunia seni tari sejak masa kanak-kanak.

Perjalanannya mengenal ritme dan gerak tubuh dimulai saat ia masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Ketertarikan yang bermula dari rasa penasaran tersebut kemudian tumbuh subur melalui konsistensi hingga ke jenjang sekolah menengah. 

Baca Juga: Indonesia Tegaskan Tak Akan Terapkan Tarif di Selat Malaka, Menlu Sugiono Sebut Bertentangan dengan Aturan UNCLOS

‘’Sejak awal aku sudah diperkenalkan dengan berbagai ragam gerak dan musik tradisional. Seiring berjalannya waktu, rasa tertarik itu berubah menjadi kenyamanan. Seni tari tradisional bukan lagi sekadar aktivitas sekolah, tapi sudah menjadi bagian dari hidupku sampai sekarang,” ungkap Jerlyn.

Menurut pandangannya, menari bukan sekadar menggerakkan anggota badan mengikuti irama musik, melainkan sebuah proses penyampaian pesan moral dan bentuk nyata dari pelestarian sejarah leluhur yang tak ternilai harganya.

Selama menekuni seni tari, siswi SMKN 1 Tuban ini telah menguasai berbagai tarian klasik Jawa yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Dua antaranya, tari Gambyong dan Gunung Sari. 

Meski belum pernah terjun ke ajang perlombaan formal, tapi jam terbang Jerlyn tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia sudah sering dipercaya untuk mengisi berbagai acara penting di wilayah Tuban. 

Namun, perjalanan gadis yang bernaung di bawah rasi bintang Scorpio ini bukan tanpa hambatan. Dia mencermati sebuah realita pahit di mana minat generasi sebayanya terhadap budaya lokal semakin terkikis. 

Banyak anak muda saat ini lebih memilih budaya populer mancanegara yang dianggap lebih kekinian, keren, dan praktis.

Terlebih lagi, tari tradisional menuntut kedisiplinan tinggi, konsistensi, dan latihan yang memakan waktu lama.

Sesuatu yang kontras dengan gaya hidup generasi instan atau satset saat ini.

Menanggapi stigma bahwa tari tradisional adalah hal yang membosankan atau ketinggalan zaman, Jerlyn dengan tegas menepis anggapan tersebut. Dia menekankan bahwa tari tradisional adalah warisan yang harus dijunjung tinggi. 

‘’Kurang tepat jika dianggap tidak relevan. Pesanku, kenali dulu budayamu sebelum memberi penilaian. Jangan sampai kita kehilangan identitas karena ketidaktahuan kita sendiri,” tegasnya. (saf/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#SMKN 1 Tuban #globalisasi #kuno #bangsa