RADARTUBAN - Di tengah gempuran tren gaya hidup remaja masa kini yang identik dengan aktivitas di pusat perbelanjaan atau sekadar menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel, Ghefira Yusika Az-Zahra justru memilih menekuni dunia kreatif dan menjadi penghasil karya literasi.
Dara berbakat asal Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding ini mulai jatuh cinta pada dunia literasi sejak dua tahun lalu.
Awalnya, menulis hanyalah cara sederhana baginya untuk mengisi waktu luang agar tidak terbuang sia-sia.
Namun, lambat laun aktivitas menulis cerita pendek berubah menjadi hobi yang mengasyikkan.
Baca Juga: Cerpen - Enak Juga Jadi Manusia
Ketekunan yang diawali tanpa niat, ekspektasi, dan harapan besar itu justru berbuah manis saat dia berhasil menyabet predikat juara 2 dalam Lomba Cipta Cerpen yang diselenggarakan di sekolahnya baru-baru ini.
Bagi Ghefira, menulis cerpen bukan sekadar menyusun kata-kata di atas kertas atau layar gawai. Dia merasa bahwa dengan menulis dirinya mampu menuangkan ide-ide segar dan imajinasi yang berseliweran di kepalanya menjadi sesuatu yang nyata dan bermanfaat.
‘’Menulis cerpen itu jauh lebih seru karena kita dituntut untuk berpikir kreatif. Berbeda dengan hanya menonton konten orang lain di media sosial atau sekadar jalan-jalan ke mall," ungkap siswi kelas XI SMKN 1 Tuban itu dengan antusias.
Menurutnya, menjadi pencipta sebuah karya memberikan kepuasan batin yang jauh lebih besar dan membanggakan daripada sekadar menjadi konsumen kreativitas orang lain di media sosial.
Remaja 17 tahun itu membagikan rahasia kecil dalam proses kreatifnya. Baginya, ide adalah sesuatu yang berharga namun sangat mudah hilang.
Oleh karena itu, dia memiliki prinsip bahwa setiap kali ide muncul, dia harus segera menuangkannya dalam bentuk tulisan sebelum semangat dan ide itu menguap.
Namun, remaja Sagitarius ini juga menekankan bahwa bakat saja tidak cukup. Dalam dunia tulis-menulis, konsistensi adalah kunci utamanya.
Ghefira percaya bahwa menulis harus dilakukan secara rutin untuk mengasah kepekaan rasa dan kemampuan merangkai narasi.
‘’Menulis cerpen itu melatih kita untuk konsisten. Punya ide itu satu hal yang juga penting, tapi menyelesaikannya sampai menjadi sebuah karya yang utuh adalah tantangan yang sebenarnya," pungkasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama