RADARTUBAN - Di tengah gempuran tren modern dan joget ala selebgram yang kian menjamur, minat generasi muda dalam merawat kebudayaan lokal semakin sedikit.
Dan, Shinta Aulia adalah satu di antara pemuda yang masih konsisten mendalami seni tari tradisional.
Meski dianggap kuno oleh sebagian kalangan muda-mudi. Bagi Shinta, tradisional memiliki daya pikat yang unik melalui pakem gerakan elegan serta kedalaman makna filosofis.
‘’Aku memang sudah tertarik dengan hal-hal tentang budaya sejak SD. Rasanya bangga sekali bisa tetap terus konsisten di tari tradisional,” tuturnya.
Baca Juga: Naysilla Putri Callista, Remaja Tuban yang Pilih Jaga Tari Tradisional dari Kepunahan
Dari kiprahnya mendalami seni tari tradisional sejak kecil, kini dia telah menjajaki panggung di berbagai event formal. Ragam tarian daerah seperti Tari Gandrung Jejer Jaran Dawuk khas Banyuwangi, Tari Andhira, hingga Tari Ginjring Party sukses dibawakannya dengan apik.
Hebatnya, siswi SMPN 1 Plumpang ini juga lihai membawa tari khas daerah sendiri untuk ditampilkan ke khalayak umum. Salah satunya, Tari Lencir Kuning khas Tuban.
‘’Sebagai generasi muda yang tinggal di Tuban, kita sudah seharusnya melek sejarah dan budaya sendiri. Minimal tahu dan kenal tari kreasi daerah kita, seperti Tari Miyang, Lencir Kuning, Nyetri, maupun Sekar Gading," ungkap remaja berzodiak Gemini tersebut.
Untuk mendekatkan dan mengakrabkan budaya pada generasi sebayanya, dara cantik asal Dusun Dempel, Kecamatan Plumpang ini bersama rekan-rekan sanggarnya juga secara aktif dan kreatif memadukan tari tradisional dengan lagu-lagu yang tengah tren di platform TikTok.
Melalui kecintaannya yang mendalam, remaja 15 tahun ini menyelipkan pesan bagi generasi seangkatannya untuk berkontribusi dan terus melestarikan tari tradisional sebagai salah satu peninggalan budaya.
‘’Memang ada generasi muda yang menganggap tari tradisional itu kuno dan tidak ngetrend. Tapi jika mencari dan menemukan letak keindahan tarian tradisional ini, generasi muda pasti tidak akan segan untuk ikut serta melestarikan,” pungkasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama