RADARTUBAN - Berawal dari kenekatan karena sempat merasa tidak memiliki bakat khusus, Aina Fitri Prameswari kini justru dikenal sebagai salah satu penari tradisional muda berbakat yang mengantongi berbagai prestasi di tingkat regional.
Di saat generasi muda lebih memilih kesenian modern dan kekinian, dia justru menekuni kesenian tradisional.
‘’Waktu itu hampir menyerah karena bingung bakatku apa. Tiba-tiba ingin ikut bergabung ke sanggar tari, padahal sebelumnya sama sekali tidak suka menari," kenang remaja asal Kecamatan Plumpang ini.
Baca Juga: Shinta Aulia, Remaja Tuban yang Konsisten Lestarikan Tari Tradisional
Bagi Naswa—sapaan akrab remaja 17 tahun itu, tari tradisional memiliki estetika yang lengkap dan tidak ditemukan pada tarian-tarian modern masa kini, mulai dari keindahan gerak dalam setiap tarian, riasan wajah yang hidup, kostum yang megah dan memiliki keunikan tersendiri, hingga makna filosofis serta spiritual yang mendalam di setiap gerakannya.
Dalam menekuni bidang tari tradisional ini, Naswa memilih fokus dan mendalami tarian khas Jawa Timur, seperti Tari Remo, Tari Gandrung, hingga Tari Miyang.
‘’Sebetulnya memang tingkat kesulitan tari jawa timuran ini cukup tinggi, karena setiap tarian memiliki ciri khas yang kuat,” lanjutnya.
Meski baru beberapa tahun berkecimpung di kesenian tradisional, tepatnya dimulai pada awal 2021, namun sederet piala berhasil diboyong ke Bumi Ronggolawe.
Di antaranya, Juara 3 se-Jawa Timur di Surabaya, Harapan 1 di Malang, harapan 1 Laga Penari Para Pemenang se-Jawa Timur, serta Terbaik 2 saat tampil di Mojokerto.
Tidak hanya itu, jam terbangnya pun terbilang cukup tinggi, yakni melalui penampilan rutin di ajang Nggedruk Obah Bumi Malang, Lapak Soronan Pati, hingga mengisi pembukaan acara daerah yang disaksikan langsung oleh Bupati Tuban.
Di tengah gempuran tren hiburan instan modern, Naswa sadar betul tantangan menjaga eksistensi budaya semakin berat.
Menurutnya, adalah hal yang wajar jika generasi muda menganggap tari tradisional itu ketinggalan zaman.
‘’Menurutku, anggapan itu wajar jika kesenian tradisional ini tidak dikemas mengikuti zaman. Itulah peran generasi muda untuk sebisa mungkin mempromosikan atau memadupadankan tari tradisional agar bisa relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai filosofisnya,” ujarnya.
Bagi siswi SMKN 2 Tuban itu, bertahan sebagai penari tradisional di tengah modernisasi merupakan sebuah komitmen nyata untuk merawat sejarah. Khususnya generasi muda sebagai penerus budaya.
‘’Sangat penting bagi aku maupun generasi muda untuk merawat kesenian ini, agar tari tradisional terus berkembang dan tidak dilupakan. Ini adalah bagian dari regenerasi budaya yang tidak boleh terputus," pungkas remaja berbintang Libra itu (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama