RADARTUBAN - Di usianya yang baru menginjak 18 tahun, Hilma Agusstya telah menorehkan jejak prestasi yang impresif.
Tak hanya dikenal berparas menawan, dia juga menjadi salah satu representasi pemuda Tuban yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
‘’Motivasi awal saya sederhana, karena rasa ingin tahu yang tinggi. Dari kebiasaan mencoba berbagai hal baru, saya terdorong untuk terus belajar,” ujar dara cantik asal Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek ini.
Baca Juga: Pujiati, Cewek Tuban yang Menemukan Kebebasan Ekspresi Diri Melalui Gerak Tari Modern
Sejauh ini, mahasiswi jurusan Farmasi UIN Malang ini telah mengoleksi 16 prestasi di berbagai bidang, mulai dari lomba esai, karya tulis ilmiah, desain, hingga berpartisipasi dalam berbagai ajang duta di tingkat kabupaten.
Pada semester dua perkuliahannya, dia juga berhasil menerbitkan jurnal kesehatan yang terindeks SINTA 3 dengan penelitian yang berfokus pada inovasi kopi berbasis kurma Golden Valley sebagai terapi alternatif untuk penderita hipertensi.
Bahkan, dia juga mencatatkan namanya sebagai salah satu finalis Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Malang.
Bagi Hilma, menjaga konsistensi prestasinya di tengah kesibukan perkuliahan bukanlah hal mudah. Namun, dia memiliki strategi khusus, seperti menetapkan tujuan yang jelas, mengatur prioritas, serta membatasi distraksi yang tidak produktif.
Meski namanya telah diwarnai dengan berbagai prestasi membanggakan, beberapa kali dia pernah merasa terpuruk.
Namun, gadis berzodiak Leo ini tidak membiarkan kegagalan menghentikan langkahnya. Baginya, rasa kecewa adalah bagian dari proses evaluasi sebelum bangkit kembali dengan persiapan yang lebih matang.
‘’Saya selalu melakukan evaluasi terhadap apa yang bisa saya perbaiki sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya," katanya.
Lulusan MAN 1 Tuban ini menekankan bahwa prestasi tak boleh berhenti sebagai deretan capaian untuk dicantumkan dalam curriculum vitae (CV). Dia selalu berusaha mengonversi setiap pengalamannya menjadi dampak nyata bagi masyarakat.
‘’Prestasi adalah sarana pengembangan diri, tapi prosesnya jauh lebih penting. Saya ingin ilmu yang saya pelajari bisa diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas,” tambahnya.
Menurut jebolan MTS Salafiyah Kerek ini, jangan menunggu merasa siap untuk memulai sesuatu. Kesiapan justru akan terbentuk seiring berjalannya pengalaman.
Baca Juga: Profil Amanda Seyfried yang Dirikan Suaka Hewan Nirlaba, Selamatkan Satwa Terlantar dan Sakit
‘’Mulailah dari minat, kembangkan dengan disiplin, dan jangan terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Jadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti,” pungkasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama