Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dhea Mareta Pilih Lestarikan Tari Tradisional di Tengah Tren Tarian Modern

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 3 Juli 2026 | 17:03 WIB
Dhea Mareta menguasai berbagai tari tradisional dan ingin mengenalkannya lebih luas melalui media sosial agar tetap diminati generasi muda. (Dhea Mareta Candra Luna Untuk Radar Tuban)
Dhea Mareta menguasai berbagai tari tradisional dan ingin mengenalkannya lebih luas melalui media sosial agar tetap diminati generasi muda. (Dhea Mareta Candra Luna Untuk Radar Tuban)

RADARTUBAN - Di tengah gempuran tren budaya modern dan tarian ala kebarat-baratan yang gandrungi kalangan generasi muda, Dhea Mareta Candra Luna justru memilih tetap teguh menjaga eksistensi seni tari tradisional.

Dhea mengaku, ketertarikannya pada dunia seni tari sudah tumbuh sejak duduk di bangku SD. Bahkan, konsistensi ini terus dia bawa hingga menempuh pendidikan di jenjang SMA dan kini aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler tari tradisional.

‘’Bagiku, tari tradisional itu memiliki makna tersendiri. Setiap tarian punya cerita dan filosofi berbeda yang membuat saya lebih tertarik ketimbang tarian modern," ungkap dara asal Kecamatan Montong ini kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Baca Juga: Jika Digelar EO dan Komersil, Kegiatan Hiburan di Taman Abhipraya Tuban Dikenakan Tarif

Selama perjalanannya, berbagai tarian daerah telah berhasil dia kuasai. Mulai dari tari kebyok anting-anting, tari dolanan, tari merak, hingga tari lilin.

Menginjak SMP, Dhea mendalami tari yang lebih sulit lagi seperti tari gambyong, lencir kuning, hingga tari kreasi jaipong. 

Remaja 17 tahun ini mengakui setiap tarian yang dikuasainya memiliki tingkat kesulitan tersendiri, baik dari segi durasi yang panjang maupun kerumitan gerakan yang menuntut penghayatan mendalam.

‘’Untuk membawakan tari tradisional ini juga perlu penghayatan. Tidak hanya sekadar menari,” imbuhnya.

Meski sejauh ini rekam jejaknya lebih banyak berfokus pada panggung pertunjukan sekolah dan belum merambah ke dunia perlombaan atau prestasi formal, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berkecimpung di bidang ini. 

‘’Menurutku hambatan itu tetap ada.  Minimnya minat teman sebaya terhadap tarian tradisional ini menjadi tantangan yang aku rasakan juga dalam melestarikan budaya daerah,” ungkap remaja yang juga hobi membaca ini. 

Untuk menyiasati tantangan zaman, siswi SMAN 1 Montong ini cukup cerdas. Dia menyebut pemanfaatan teknologi menjadi kunci utamanya. Sebab, saat ini generasi muda cerdas menggunakan media digital dan media sosial sebagai panggung baru. 

Melalui platform tersebut, menurut alumni SMPN 1 Montong ini, tari tradisional bisa dikemas secara menarik agar lebih mudah diakses, dipelajari, dan dikenal luas oleh lintas generasi, khususnya generasi muda yang akan menjadi penerus.

‘’Sebagai generasi muda, kita juga punya tanggung jawab menjaga warisan ini agar tidak hilang ditelan zaman. Terlebih dengan adanya sosmed yang bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menaikkan promosi budaya tradisional, agar tidak kalah dengan budaya modern saat ini,’’ pungkas remaja berzodiak Aries ini.(saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #tari tradisional #generasi muda