RADARTUBAN - Di tengah padatnya rutinitas akademis sebagai siswi kelas X SMK Negeri 1 Singgahan, Mei Dista Dwi Anjani punya cara unik untuk mengurai kejenuhan.
Salah satu yang aktif dilakoninya adalah membawakan tarian tradisional ke panggung-panggung acara.
Ketika sebagian besar remaja masa kini lebih memilih gawai untuk mengisi waktu luang, dara manis yang akrab disapa Dista ini justru memilih untuk menari. Baginya, gerakan dinamis tari tradisional bukan sekadar hobi biasa, melainkan sebuah cara untuk melepas penat dari tumpukan tugas sekolah.
Baca Juga: Meisya Rofiqoh Putri, Penari Muda Tuban yang Berjuang Lestarikan Tari Tradisional
Setiap kali menari, dia mengaku merasakan ketenangan yang luar biasa. Alunan ketukan gamelan dan keharusan menyelaraskan antara wiraga, wirama, dan wirasa membuatnya merasa jauh lebih rileks.
‘’Kepadatan rutinitas harian seperti hilang begitu saja. Menurutku, menari jadi cara ampuh menambah kebahagiaan sekaligus rasa percaya diri saat mengekspresikan diri secara positif,” ungkap remaja asal Desa Talangkembar Kecamatan Montong itu kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Namun, hal itu bukan sekadar pelarian dari rasa bosan saja. Di era gempuran budaya pop dan tren modern digital, remaja 15 tahun ini justru memandang tari tradisional sebagai benteng pertahanan jati diri yang penting dimiliki.
Dista meyakini, merawat seni tradisional adalah bentuk penghormatan terhadap akar budaya serta nilai luhur yang diwariskan nenek moyang sejak ratusan tahun lalu.
‘’Modernitas dan tradisi itu sangat bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan. Bisa saling melengkapi,” imbuh gadis berzodiak Taurus ini.
Kendati demikian, perempuan yang juga hobi memasak ini tak menampik bahwa tantangan terbesar generasi Z saat ini adalah masuknya budaya asing tanpa filter melalui ruang digital. Karena itu, melalui seni tari, dia belajar melatih kedisiplinan dalam melestarikan budaya bangsa.
Sebagai cara melestarikan, alumni UPT SMP Negeri 1 Montong ini menyebut, generasi muda maupun pelaku seni tari bisa memanfaatkan media sosial agar tari tradisional tetap memikat di mata anak muda.
Selain itu, kolaborasi pertunjukan kreatif yang kekinian juga bisa menjadi sarana agar kesenian tradisional ini tidak hilang ditelan zaman.
Meski mendukung inovasi agar tarian daerah lebih mudah diterima, dia mengingatkan bahwa pengembangan seni tari kreasi tidak boleh melenceng dari pakem, nilai, dan filosofi dasar tarian aslinya.
‘’Jangan sampai esensi luhur dikorbankan demi mengejar popularitas sesaat di jagat maya. Berkreasi boleh, tapi tetap barus sesuai pakem karena setiap gerakan pada tarian tradisional memiliki maknanya sendiri,” pungkas Dista. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama