RADARTUBAN - Berawal dari panggung sederhana di lingkungan pondok pesantren, Yulistia Febriarini kini sukses meretas jalan sebagai master of ceremony (MC) profesional.
Dia membuktikan bahwa konsistensi, pemilihan lingkungan yang tepat, serta adaptasi digital menjadi kunci utama eksistensi di tengah ketatnya persaingan industri kreatif saat ini.
Dara asal Desa Patihan, Kecamatan Widang tersebut bermula tertarik di dunia cuap-cuap saat menempuh pendidikan di MAN 3 Jombang. Ditunjuk menjadi pemandu acara di lingkungan sekolahnya, dia justru menemukan kenyamanan dan rasa ketertarikan yang mendalam di bidang ini.
‘’Awalnya modal nekat dan otodidak. Aku belajar mandiri lewat tayangan YouTube dan browsing di internet setelah teman-teman memberikan tanggapan bahwa perform ku saat menjadi MC di acara sekolah bagus," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Baca Juga: Alasan Mengapa Kritik Selalu Terasa Tidak Nyaman bagi Penguasa
Sebelum mengecap panggung profesional, Febi sering dipanggil memandu acara di tingkat desa tanpa dibayar sepeser pun. Bagi mahasiswa Unirow Tuban ini, momen tersebut tidak dijadikan sebagai beban, melainkan merupakan jalan untuk mengasah mental dan jam terbang.
‘’Saat itu aku sadar kalau aku belum memiliki banyak pengalaman maupun sertifikat MC, sehingga memang saat itu tidak dibayar dan tidak meminta bayaran,” imbuhnya
Titik balik karirnya dimulai saat gadis 23 tahun ini memberanikan diri bergabung dengan paguyuban organisasi yang menaungi belajar MC adat Jawa untuk memperdalam keilmuannya secara formal.
Sadar terhadap pentingnya jangkauan publik yang luas, dia mulai memanfaatkan media sosial sebagai ruang branding diri secara konsisten.
Lewat konten-konten kreatif yang disesuaikan dengan karakter Gen Z, portofolio digitalnya terbangun dan memikat klien komersial pertamanya.
‘’Saat awal karir aku bingung sekali cara dapat klien itu darimana. Tapi setelah aku membranding diri di medsos, alhamdulillah aku menerima klien pertamaku,” terang lulusan MTS 5 Patihan ini.enurut dia, modal menjadi pemandu acara tidak sekadar memiliki suara yang bagus dan merdu.
Kemampuan menjalin komunikasi yang intens dengan klien untuk menyamakan presepsi, mematangkan rundown, menyusun konsep acara, hingga menyepakati dresscode menjadi hal yang sangat penting.
‘’Sebelum hari H pelaksanaan acara, aku selalu menyempatkan diri berlatih vokal, menjaga intonasi, dan berbicara langsung di depan cermin,” ungkapnya.
Bagi Febi, skill dasar yang wajib dimiliki seorang komunikator adalah kepercayaan diri yang kuat dan tidak mudah minder. Lewat tipsnya, dia menyarankan, bagi pemula untuk konsisten merekam suara atau berbicara di depan kamera untuk mengetahui bagian mana yang kurang pas agar bisa dievaluasi.
"Semua orang bisa menjadi apa pun, asalkan mau berjuang keras dan berada di lingkungan pertemanan yang mendukung tumbuh kembang potensi diri," tandasnya.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban