Kisah Sabilla Ayu, Siswi SMAN 4 Tuban yang Temukan Penawar Galau Lewat Puisi

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 17:03 WIB
Mengenal Sabilla Ayu Oktaviani, remaja asal Montong Tuban yang temukan kekuatan magis puisi sebagai penawar sepi dan sarana jujur pada diri. (Sabilla Ayu Oktaviani untuk Radar Tuban)
 
Mengenal Sabilla Ayu Oktaviani, remaja asal Montong Tuban yang temukan kekuatan magis puisi sebagai penawar sepi dan sarana jujur pada diri. (Sabilla Ayu Oktaviani untuk Radar Tuban)  

RADARTUBAN - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan remaja, Sabilla Ayu Oktaviani menemukan cara unik untuk mengungkapkan sekaligus mengabadikan perasaannya.

Bait demi bait puisi menjadi ruang tempatnya meluapkan emosi, mengendapkan lara, hingga bangkit dari kerasnya kegagalan.

Gadis asal Desa Pucangan, Kecamatan Montong ini menilai, puisi memiliki kekuatan magis untuk menyampaikan emosi secara mendalam.

Inspirasi utamanya bersumber langsung dari suasana hati, terutama ketika dia sedang diselimuti rasa sedih, kesepian, atau gejolak perasaan yang sulit diungkapkan secara langsung.

"Saat galau, kita butuh tempat bercerita. Menulis puisi menjadi caraku menyampaikan apa yang dirasakan. Bagiku, beberapa perasaan akan terasa lebih abadi dan aman jika tetap tersimpan dalam bentuk tulisan," ujar Bella pada Jawa Pos Radar Tuban.

Baca Juga: Fadli Zon Resmikan 26 Juli sebagai Hari Puisi Indonesia, Jejak Chairil Anwar Abadi dalam Sastra Nusantara

Menurut pelajar kelas XI SMAN 4 Tuban ini, saat menulis puisi, ada perasaan tertentu yang justru terasa lebih abadi dan aman saat disimpan rapat dalam bentuk tulisan tanpa harus diketahui oleh orang yang bersangkutan.

''Puisi itu bisa menjadi surat rahasia yang abadi, karena bagiku, ada beberapa perasaan yang justru terasa lebih bermakna ketika hanya dituangkan dalam bentuk tulisan tanpa harus diketahui oleh orangnya," ujarnya.

Kecintaannya pada seni tutur kata ini tidak berhenti di atas lembaran kertas diary. Remaja 16 tahun ini juga kerap menguji keberanian dan kemampuannya dengan tampil dalam berbagai ajang lomba membaca puisi, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.

Kendati demikian, perjalanan sastranya tidak selalu bertabur penghargaan. Bella mengaku sempat beberapa kali menelan kekecewaan pahit akibat gagal meraih kemenangan di atas panggung kompetisi.

''Karena support dari keluarga dan teman-teman, sekarang aku memilih untuk tetap melanjutkan dan terus mengasah bakat ini," tutur alumni SMPN 1 Montong ini.

Kini, bukan sekadar sebagai media mengungkapkan perasaannya, bagi gadis berzodiak Libra ini, setiap bait puisi yang dia buat dan bacakan juga merupakan ruang untuk jujur pada diri sendiri.  ''Menurutku, dengan merangkai kata-kata yang indah, pesan atau emosi yang ingin disampaikan melalui puisi ini tidak hanya sekadar jadi informasi, tapi punya makna yang lebih mendalam dan menyentuh bagi aku pribadi maupun orang lain yang membaca dan mendengarkannya," ungkapnya. (saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban SMAN 4 puisi